I love You Alloh
Air mata tak lagi tertahan
Keramaian tak lagi bisa menjadi hiburan
Tak juga tenang karena kesunyian
Hanya Engkaulah yang bisa menangkan
Saat hati ini tertindih
Menangis dan merintih
Hanya Engkaulah yang mampu menghibur
Menghibur hati yang hancur
Saat jiwa ini bimbang
Mengingat masa yang mengenang
Hanya Engkaulah tempatku bersandar
Bersandar dengan rasa sabar
Ya Alloh!!!
Kepada-Mu ku mengharap ketenangan
Kepada-Mu ku mengharap kebahagiaan
Kepada-Mu ku sandarkan semua harapan
DiGoda PeriH RiNdu
matahari tenggelam hilang
malam mengetuk datang
diselimuti mendung, gelap merambat pekat
pun cahaya bulan meredup, aku kian tersesat
dalam sepi yang ketat :mengikat
digoda perih rindu
anganku memburu masalalu
mengeja setiap detik waktu
yang terlalui bersamamu
ah, betapa naif dan bodohnya aku
malam meninggi
kututup mata kelabuhi mimpi
berharap kau datang menghampiri
dan ku kembalikan cinta yang kau beri
lengkap dengan luka dan semu mimpimimpi
……
ah, bodohnya aku
memancing luka masalalu
bahagia bisa mencintaimu
entah sampai kapan
menjaga hati seutuhnys kasih sayangku
meski dia bukan milikku, aku bahgaia
meski aku tak sempurna seperti yang dia minta aku tetap bertahan
dimanapun aku menatap dunia
yang tebayang hanya senyuman indahmu
bahkan saat aku tak dapat merasakan hangat senyumanmu
puisi
Kau telah hadir dalam hidup ku dengan sejuta keindahan mu,kehadiranmu adalah suatu anugerah yang begitu indah,ku rasakan kebahagiaan saat kau datang di hidupku.
Ku akan jaga cinta mu dengan ketulusan hatiku,agar kau tak akan pergi tinggalkan ku yang cinta padamu,dan aku yakin kaulah belahan jiwaku yang selama ini ku cari.
Aku kan selalu cinta kamu sampai tutup usia ku.
puisi
Selama ini aku tak pernah meminta apapun darimu..
Ku tak pernah meminta cinta ataupun setia asalkan engkau bisa bahagia..
Aku pun tak pernah meminta engkau untuk memiliki ku asalkan kau mau sedikit saja tuk melihatku..
Ku ikuti semua mau mu dan ku ikuti semua keinginan mu dengan tujuan asal kau bisa bahagia..
Tapi kali ini aku punya satu permintaan buatmu..
Dan ini detik terakhirku karna ini adalah permintaan yang pertama dan yang terakhir dariku untukmu..
Aku ingin berbaring indah di sampingmu dan dalam rangkulanmu..
Tuntunlah aku untuk mengucap dua kalimat sahadat..
Lalu usapkan tanganmu di mataku sampai mataku tertutup untuk selama lamanya..
Adam.
puisi
Angin sepoi sepoi di pagi yang buta
Mengalir lembut menusuk dada
Membuat hatiku tertegun
Merenung dan melamun
Kupandang langit dengan senyuman
Berhiaskan bintang bertabur keindahan
Ku terkagum dan bersyukur
Menikmati keindahan dari Yang Maha Luhur
Kupandang ufuk timur
Melihat mentari mulai menghibur
Menghibur hati yang sedang bimbang
Menunggu jawaban yang tak kunjung datang
Subhaanalloh!!
Kenapa ku tak pernah sadar
Akan semua ciptaan Dzat Yang Maha Besar
Bintang-bintang yang terus bertebar
Mentari yang terus bersinar
Dialog dengan syaiton
Bissmilahirrahmannirrahim
Aku berdialog dengan syaithan yang terkutuk, dimalam gelap gulita, ketika aku hendak beranjak qiamulail.
Aku berkata : " Aku khawatir tertinggal amalan utama malam ini"!
Ia mengatakan : " Waktunya masih panjang terbentang"
Aku berkata : " Aku khawatir tertinggal melakukan sholat berjama�ah"
Ia mengatakan : " Jangan terlalu membebani diri, dalam ketaatan"
Ketika matahari terbit aku dengar bisikan ditelingaku :
"jangan sesali yang sudah lalu. hari ini masih ada waktu. gunakan sebaik-baiknya." lalu aku duduk untuk bersiap berdzikir tapi dia membukakan dihadapanku daftar permasalahan yang harus dipikirkan.
Aku berkata : " ini menyibukkanku dari berdo�a"
Ia berkata : " biarkanlah ia hanya sampai sore".
Aku bertekad untuk bertaubat
ia berkata : " nikmatilah masa mudamu"
Aku berkata : " Aku takut jika maut menjemputku"
Ia berkata : " Usiamu belum akan habis"
lalu, aku bersiap untuk menghapal Al-Qur�an
Ia berkata : " Coba tenangkan dahulu dirimu dengan mendengar lagu"
Aku berkata : " lagu itu syubhat hukumnya"
Ia berkata : " bukankah sejumlah ulama masih punya pandangan lain terhadap lagu ?"
Aku berkata : " bahkan saya punya hadist-hadist yang mengharamkan lagu"
Ia berkata : " semua itu hadist - hadist lemah"
Tiba-tiba seorang wanita cantik berlalu dihadapanku. aku berusaha menundukan pandangan.
Ia mengatakan : " memangnya kenapa jika melihat?"
Aku berkata : " Melihat wanita bukan mahram tidak boleh. berbahaya "
Ia berkata : " kalau begitu berpikirlah tentang kecantikan. berpikir itu tidak terlarang"
Aku berkata : " Aku harus berusaha untuk memperbaiki kondisi umat ini."
Ia mengatakan : " Syurga tidak hanya dimasuki dengan amal-amal tertentu. kenapa engkau berupaya pergi memberi
nasehat?jangan jerumuskan kamu pada kesulitan."
Aku berkata : " Ini baik untuk para hamba Allah"
Ia berkata : " Aku khawatir engkau terkena penyakit popularitas. itulah kunci kerusakan."
Aku berkata : " Lalu apa menurutmu tentang tokoh-tokoh?"
Ia berkata : " Aku mampu bentangkan semua masalah tentang hal itu."
Aku berkata : " Ahmad bin Hambal?"
Ia mengatakan : " Dia telah membunuhku dengan perkataannya : Peganglah sunnah dan Al-Qur�an yang diturunkan."
Aku katakan : " Ibnu Tarmiyyah?"
Ia berkata : " Pukulan-pukulannya masih terasa di kepalaku, karena amal-amal hariannya."
Aku berkata : " Al-Bukhari?"
Ia berkata : " Kitab-kitabnya telah membakar rumahku"
Aku berkata : " Fir�aun?"
Ia berkata : " Dari kami untuknya segala pertolongan dan dukungan."
Aku berkata : " Shalahuddin Al-Ayyubi, pahlawan Hittin?"
Ia berkata : " Tinggalkan dia yang telah mengotori aku dengan tanah."
Aku berkata : " Muhammad bin Abdul Wahhab?"
Ia berkata : " Ia membakar dadaku dengan dakwahnya yang bergelora. ia membakarku dengan seluruh anak panah."
Aku berkata : " Abu Jahal?"
Ia berkata : " Kami saudara dan keluarganya."
Aku berkata : " Lenin ? "
Ia berkata : " Sudah ku ikat di neraka bersama stalin. "
Aku berkata : " Majalah - majalah porno ? "
Ia berkata : " itu undang - undang kami."
Aku berkata : " Apa dzikirmu ? "
Ia berkata : " lagu - lagu. "
Aku berkata : " Apa pekerjaan mu ? "
Ia berkata : " Berkhayal dan berkhayal. "
Aku berkata : " Pendapatmu tentang pasar ? ��
Ia berkata : " Disana kami menebar ilmu dan disana berkumpulnya teman-teman. "
Aku berkata : " Bagaimana engkau menyesatkan manusia ? "
Ia berkata : " Dengan syahwat, syubhat, tempat membuang waktu, khayalan dan lagu. "
Aku berkata : " lagu yang bagaimana ? "
Ia berkata : " lagu yang membuat kau lalai mengingat Tuhan mu. "
Aku berkata : " Bagaimana engkau menyesatkan penguasa ? "
Ia berkata : " Dengan ambisi haus darah, mengecilkan ulama, menolak nasihat para ahli hikmah, dan
membenarkan orang - orang dungu. "
Aku berkata : " Bagaimana engkau menyesatkan wanita ? "
Ia berkata : " Dengan perhiasan dan berpergian, meninggalkan apa yang diperintahkan, dan berani melakukan
yang dilarang. "
Aku berkata : " Bagaimana engkau menyesatkan para ulama ? "
Ia berkata : " Dengan senang tampil, ujub dan sombong, dengki yang memenuhi dada. "
Aku berkata : " Bagaimana engkau menyesatkan orang awam ? "
Ia berkata : " Dengan ghibah (gosip), menyebarkan keburukan antara mereka (Naminah), pembicaraan yang
bisa memicu permusuhan, dan pembicaraan yang tiada harganya. "
Aku berkata : " Bagaimana engkau menyesatkan para pedagang dan pembisnis?"
Ia berkata : " Dengan riba dalam interaksi bisnisnya, dengan menghalanginya dari shadaqoh, dan dengan
berlebihan membelanjakan uang."
Aku berkata : " Apakah yang membunuhmu?"
Ia berkata : " Ayat kursi. itu bisa menghimpitku, memperpanjang kurunganku, dan memberi banyak musibah
untukku."
Aku berkata : " Siapa manusia yang paling engkau benci?"
Ia berkata : " Ahli masjid, semua orang yang ruku� dan sujud, yang zuhud dan ahli ibadah juga setiap mujahid."
Aku berkata : " Aku berlindung kepada Allah darimu."
Selanjutnya ia menghilang dan lenyap sepert ditelan bumi, itulah hukuman bagi pendusta dan pembangkang.
ziyad Patel
http://www.youtube.com/watch?v=a_nO83vF-Sw
Murrotal
http://www.youtube.com/watch?v=yjWGafIMKdE
mutiara ilmu
"Tidak ada yang lebih mencelakakan daripada bekerja tanpa menggunakan pengetahuan."
www.familiazam.com
"Orang yang terlalu cepat berputus asa adalah orang yang putus harapan seumpama dia telah menyediakan dirinya untuk mati sebelum mati"
"Kesusahan tidak semuanya seksaan dan yang paling pahit itu bukan semuanya racun. Tetapi adakalanya lebih berguna daripada kesenangan yang terus-menerus"
"Benarlah usaha itu tangga kejayaan. Tetapi jika tiada kesungguhan dan niat bukan kerana Allah, samalah seperti anda menggunakan tangga untuk turun ke bawah"
www.familiazam.com
"Orang yang cemerlang melihat setiap halangan sebagai peluang untuk mengasah potensi, manakala orang yang tidak cemerlang menganggap setiap halangan sebagai alasan yang menyebabkan kemundurannya"
"Tidak semua yang kita ingin mampu kita perolehi sebagaimana tidak semua yang kita perolehi adalah yang kita inginkan"
"Kejayaan adalah tangga yang tidak dapat anda panjat dengan tangan di dalam poket"
"Orang yang selalu bersedih akan sukar mencapai apa yang dicita-citakan"
www.familiazam.com
"Manusia yang berjaya akan memperolehi keuntungan daripada kesilapannya, dan mencuba lagi dengan cara yang lain"
"Kegagalan bermakna bahawa anda belum berjaya lagi"
"Ingatlah bahawa anda boleh gagal dalam apa sahaja dalam hidup asalkan tidak menjadi seorang yang gagal"
www.familiazam.com
"Kegagalan bukan bermakna anda tidak mencapai apa-apa.Ia bermakna anda telah mempelajari sesuatu"
"Wang bukanlah segala-galanya, namun ia pasti menjadi penghubung dengan anak-anak anda"
"Ramai orang yang masih bergantung kepada kerja-kerja yang bergaji rendah kerana mereka takut gagal jika mencuba kerja lain"
www.familiazam.com
"Nafsu mengatakan wanita cantik atas dasar rupanya, akal mengatakan wanita cantik atas dasar ilmu dan kepandaiannya, dan hati mengatakan wanita cantik atas dasar akhlaknya"
"Sahabat yang beriman ibarat mentari yang menyinar. Sahabat yang setia bagai pewangi yang mengharumkan. Sahabat sejati menjadi pendorong impian. Sahabat berhati mulia membawa kita ke jalan Allah"
www.familiazam.com
"Perkara yang paling manis dalam dunia ini ialah pujian seorang kekasih daripada perasaan cintanya. Ia lebih manis daripada madu yang paling enak di dunia ini"
kata-kata mutiara
Sungguhpun bertanya itu memalukan, tetapi disitulah kebenaran yang mudah diperolehi. Malu bertanya sesat jalan. Bertanyalah pada mereka yang arif
www.familiazam.com
Perkara yang paling manis dalam dunia ini ialah pujian seorang kekasih daripada perasaan cintanya. Ia lebih manis daripada madu yang paling enak di dunia ini
Pemimpin yang paling berkuasa ialah yang disegani oleh rakyatnya, manakala seorang pemimpin yang tidak baik akan menipu rakyatnya
Anak yang soleh sentiasa bermanis muka ketika bercakap, tidak berwajah garang atau bermasam muka kepada orang lain
www.familiazam.com
Ilmu yang tidak dimenafaatkan umpama pohon yang tidak berbuah
Tiap-tiap perkara yang tidak dimulai dengan BISMILLAH, maka akan terputus keberkatannya"
Janganlah kita bersikap sombong dan bermegah-megah dengan kelebihan yang ada pada diri kita. Orang yang sombong selalunya akan dibenci
www.familiazam.com
Bercakaplah yang benar walaupun ianya pahit
Sesungguhnya Allah s.w.t itu tidak melihat kepada tubuhmu, tidak pula melihat bentuk rupamu, tetapi Dia melihat kepada hatimu
Janganlah takut mencuba sesuatu yang baru, asalkan kalau kita yakin dengan kebaikan yang akan diperolehinya
Janganlah mudah kita melemparkan kata-kata nista kepada orang lain sebab mungkin orang yang dinista itu lebih baik daripada kita. Orang yang baik juga sentiasa menjaga lidahnya daripada menyakiti hati orang lain
www.familiazam.com
Fikirkanlah dosa dan pahala...lalu laksanakanlah yang berpahala dan tinggalkan yang berdosa
Orang Mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih disukai oleh Allah daripada orang Mukmin yang lemah
Berbuat baiklah, sesungguhnya Allah s.w.t menyukai orang-orang yang berbuat baik
www.familiazam.com
Jadikanlah hari ini lebih baik dari hari semalam
Tidak akan masuk syurga bagi orang yang memutuskan silaturrahim.
Tunaikanlah amanah yang dipertanggungjawabkan kepada kita dengan jujur
www.familiazam.com
Berusahalah untuk menjadi kawan yang setia....kita tetap bersama walaupun dalam keadaan yang susah
Ingatlah, kita tidak akan menjadi miskin atau susah hanya kerana kita berkongsi sedikit daripada harta kita dengan orang lain
Tidak kira betapa kecil atau besar sumbangan yang boleh kita berikan, yang penting kita berusaha sebaik mungkin dengan keupayaan yang ada pada diri kita
www.familiazam.com
Sesuatu kejayaan adalah lebih bermakna apabila ia disertai usaha yang bersungguh-sungguh...orang yang mudah berputus asa tidak mungkin beroleh kejayaan yang cemerlang. Biarlah bersusah dahulu, asalkan senang kemudian
Pentingkan yang lebih penting kerana yang lebih penting itu lebih penting dari yang penting
Jangan terlalu memandang tinggi kepada orang lain sehingga memandang rendah kepada diri sendiri
www.familiazam.com
Janganlah kita mudah lupa diri apabila mendengar puji-pujian sebab tidak semua puji-pujian itu dapat memberi kebaikan kepada kita
"Berusahalah dengan ikhlas tanpa memikirkan balasan semata-mata, kerana semakin tinggi keikhlasan di dalam diri, semakin tinggilah balasan baik yang akan diperolehi dalam keadaan sedar atau tidak"
www.familiazam.com
"Jalan terbaik untuk keluar dari suatu kesulitan ialah menghadapi dan mengatasi kesulitan itu"
"Apabila kita mendengar sesuatu berita , kita selalu harus menunggu keputusannya"
"Memberi contoh dengan perbuatan adalah lebih baik daripada memberi contoh dengan perkataan"
www.familiazam.com
"Manusia yang dapat membina dunia serta kemajuannya adalah manusia yang dapat memuji dan mengkritik"
"Perancangan yang teliti memainkan peranan yang penting dalam hidup manusia, jika anda mempunyai matlamat atau tujuan hidup jelas, anda harus merancangnya dengan teliti agar dapat menuju kearah sasaran dengan tepat"
"Keadilan adalah timbangan kebenaran, kesederhanaan adalah timbangan keberanian"
www.familiazam.com
"Jika kita tidak mampu bertindak seperti yang kita harapkan maka kita harus bertindak apa yang kita mampu"
"Angan-angan, harapan, keinginan, kehendak dan cita-cita dapat diubah sehingga menjadi kenyataan, setelah melalui pengalaman pahit dan kegagalan dan tetap bertekad untuk berjalan terus maju terus tanpa mengenal lelah dan putus asa sekalipun orang lain sudah menghalangnya"
"Tidak sekali-kali panjang fikiran seseorang selain ia telah berilmu. Dan tidak sekali-kali berilmu seseorang itu selain ia beramal"
www.familiazam.com
"Keyakinan yang mendalam akan membuat seseorang itu kebal terhadap ejekkan dan hinaan"
"Untuk mencapai cita-cita yang anda idam-idamkan, anda harus ada kemahuan , kebolehan, kesanggupan dan penentuan yang teguh"
"Modal paling baik dari seorang ialah kerajinannya"
"Jangan melepaskan apa yang berada berhampiran kita dengan bermimpi tentang apa yang jauh daripada kita"
www.familiazam.com
"Barang siapa yang menjadikan dirinya pemimpin maka hendaklah ia mulai memimpin dirinya sebelum ia memimpin orang lain"
"Kalau kamu melihat seseorang berbudi luhur, berusahalah menyamai kebaikannya dan kalau kamu bertemu dengan seorang berbudi rendah, periksalah dirimu sendiri"
"Hargailah diri sendiri, peliharalah maruah dan martabat demi menjadi insan yang sempurna"
"Waktu sangat berharga, maka itu janganlah engkau habiskan kecuali untuk sesuatu yang berharga"
mutiara
"Anda tidak akan berasa penat sekiranya melakukan perkara yang anda suka"
www.familiazam.com
"Lebih baik seseorang wanita mengahwini lelaki yang mencintainya daripada lelaki yang beliau cintai"
"Jika anda berhasrat untuk berjaya, jangan hanya memandang ke tangga tetapi belajarlah untuk menaiki tangga tersebut"
"Di mana anda berdiri, di situlah perlumbaan kehidupan anda dan lupakan masa silam"
www.familiazam.com
"Berhati-hatilah dengan kemarahan seorang yang sedang bersabar"
"Tanpa permulaan, anda tidak akan sampai ke mana-mana"
"Adalah lebih baik untuk mengetahui kelemahan & kegagalan sendiri daripada menuding kesalahan kepada pihak lain"
"Setiap malam sebelum tidur,anda perlu menetapkan satu matlamat di dalam minda & menguatkannya dari hari ke hari"
www.familiazam.com
"Jika anda hilang segala-galanya, jangan lupa, kerana anda masih mempunyai masa depan"
"Sesiapa yang tidak pernah merasai kepahitan tidak akan mengenal kemanisan......... "
"Masyarakat abad dahulu menggunakan tenaga manusia untuk membina sebuah monumen yang indah sekali. Masyarakat abad kini menggunakan jentera hanya untuk membina sebuah kedai........."
www.familiazam.com
"Tidak pernah wujud orang malas. Orang yang dianggap malas ialah orang yang tidak dapat mencari pekerjaan yang sesuai dengan minatnya"
"Jika poket anda penuh, anda tidak akan kekurangan sahabat"
"Semua perkara adalah sukar sebelum ia menjadi mudah"
www.familiazam.com
"Seorang lelaki boleh dikalahkan tetapi tidak boleh dimusnahkan"
"Kemenangan terhadap diri sendiri adalah lebih baik daripada kemenangan terhadap orang lain"
"Orang pengecut ialah orang yang melihat sesuatu yang benar tetapi tidak melakukannya"
www.familiazam.com
"Kemenangan hanya untuk orang yang berhak mendapatkannya"
Lebih mudah untuk memenuhi impian kita yang pertama daripada cuba untuk mengejar impian-impian lain selepasnya
Tidak ketawa walaupun sehari amat merugikan
www.familiazam.com
Anda tidak boleh mengubah masa lepas anda. Tetapi anda boleh memusnahkan diri anda kini sekiranya terlalu memikirkan masa depan anda
"Tidak penting sama ada berapa lama kita hidup. Yang penting bagaimana keadaan kita semasa hidup"
Berdoa dan meminta bukannya perkara yang sama
Berterima kasihlah kepada pokok yang memberi anda perlindungan dengan tidak memusnahkannya
www.familiazam.com
Sembahyang adalah prinsip utama dalam hidup. Memberi alasan tidak cukup masa untuk melakukannya adalah hinaan kepada Allah
Jangan tinggalkan hingga esok apa yang boleh disiapkan hari ini
Tiada hiburan yang lebih murah daripada membaca
www.familiazam.com
Apabila semua benda kelihatan semakin hilang, ingatlah bahawa masa depan masih ada
Rasuah akan sentiasa wujud selagi masih ada perasaan tamak pada diri manusia
Jangan sangka diri kita adalah yang terbaik kerana kita belum kecapi kejayaan yang orang lain capai
Tidak semestinya orang yang berjaya terus berjaya dan orang yang gagal terus gagal
"Orang yang serba kekurangan kurang mengetahui kelemahan dirinya sebaliknya sentiasa menyalahkan orang lain atas apa yang berlaku"
www.familiazam.com
Dalam dunia ini lebih ramai yang berlidah buaya daripada yang berlidah manusia
Dunia bukanlah tempat menunjukkan kekuatan tetapi untuk kita rasai nikmatnya
Orang yang sentiasa berusaha ialah seorang yang takutkan kegagalan
Seseorang yang cepat mendaki ke puncak akan cepat pula jatuh ke bumi
Kepakaran seseorang tidak akan ke mana selagi dia tidak membuktikannya melalui perlaksanaan
www.familiazam.com
"Sewaktu senang kita lebih menghargai kekayaan tetapi sewaktu susah kita akan lebih menghargai kesihatan"
Penipu yang mahir sekalipun tidak akan menyedari sekiranya dirinya ditipu
Kegagalan adalah permulaan kepada kejayaan
"Harta boleh menjadikan seseorang yang tamak sebagai hambanya"
www.familiazam.com
Kecantikan dan kebaikan tidak wujud bersama
"Peperangan hanya boleh menjanjikan kemenangan selepas kemusnahan dan kematian"
"Setiap manusia hanya mempunyai dua matlamat iaitu cita-cita & kejayaan"
www.familiazam.com
"Harta menjamin dunia. Iman menjaminkan akhirat"
"Penghalang kepada kejayaan adalah fikiran sendiri, bukannya kecacatan atau kekurangan"
Seorang anak tidak akan mengetahui kasih sayang ibu bapanya terhadapnya sehinggalah dia mempunyai anak sendiri
"Kawan yang sebenar ialah seorang yang dapat menerima diri kita yang sebenar"
www.familiazam.com
"Masa adalah sekolah di mana kita belajar. Masa adalah api di dalamnya kita terbakar"
"Manusia mesti menamatkan peperangan, jika tidak peperangan akan menamatkan manusia"
"Arus masa depan telah tiba & tiada cara melawannya"
Kisah cinta yang sebenarnya tiada akhirnya
www.familiazam.com
"Bukti terbaik cinta ialah kepercayaan"
"Kita lebih banyak berusaha untuk menegakkan benang basah daripada berusaha memperbaiki kelemahan diri"
"Jika kita melakukan sesuatu dengan keikhlasan, nescaya ganjaran yang kita terima juga setanding dengan apa yang kita usahakan"
www.familiazam.com
"Semangat yang kuat mampu mengatasi apa sahaja cabaran yang datang"
"Selagi kita mencuba dan berusaha, selagi itulah kita akan beroleh apa yang kita hajati"
Dendam adalah manis. Balasannya adalah pahit
www.familiazam.com
Fikiran membawa kepada pekerjaan. Pekerjaan membawa kepada kejayaan. Kejayaan membawa kepada impian
man jadda wa jadda
"Kegagalan hari Ini beerti pendorong, namun kejayaan semalam bukan beerti kemegahan, oleh itu gantungkanlah cita-citamu setinggi-tinggi bintang di langit, dan rendahkanlah dirimu serendah-rendah rumput di bumi"
"Manusia yang berhati suci adalah manusia yang banyak menangis daripada ketawa. Didiklah hati dengan keihklasan dan kesucian agar liku-liku kehidupan ini menjadi lebih bermakna dan mengikuti arus perubahan kedewasaan"
www.familiazam.com
"Tugas pertama seorang lelaki ialah menjadi dirinya sendiri"
"Pilihlah seseorang untuk dicintai & cintalah pilihan anda itu"
"Cinta tidak berbalas sama seperti soalan tanpa jawapan"
www.familiazam.com
"Lelaki yang tidak berharta biasanya memiliki lidah bermadu"
"Lelaki pendiam ibarat air tenang dalam & bahaya"
"Lelaki pendiam ibarat air tenang dalam & bahaya"
www.familiazam.com
"Orang yang bijak mempelajari banyak perkara daripada musuhnya sendiri"
"Terdapat banyak kemungkinan untuk gagal kerana kejayaan hanya boleh dicapai dengan satu perkara iaitu USAHA"
"Ketika ditimpa bencana, kita akan mengenali yang mana satu lawan & yang mana satu kawan"
www.familiazam.com
"Membaca menjadikan diri anda sebagai seorang lelaki, menghadiri persidangan sebagai persediaan menjadi lelaki yang sebenar & menulis menjadikan anda lelaki sejati"
"Karektor seseorang lebih mudah disembunyikan daripada dikesani oleh orang lain"
"Pemimpin yang baik akan memikul kesalahan & tidak mengejar nama"
www.familiazam.com
"Lelaki berani mungkin akan kalah tetapi tidak akan mengalah"
"Jika anda hanya berbuat baik kepada diri sendiri maka anda sebenarnya tidak pernah membuat kebaikan"
"Pengalaman ialah gelaran yang diberikan oleh setiap orang terhadap kesilapan mereka"
www.familiazam.com
"Kebocoran yang kecil masih boleh menenggelamkan sebuah kapal yang besar"
"Tiada hadiah yang lebih berharga daripada nasihat yang baik"
"Anak lelaki tetap menjadi anak lelaki sehinggalah beliau beristeri. Anak perempuan kekal menjadi anak perempuan seumur hidupnya"
www.familiazam.com
"Kebodohan ialah kesilapan bagi seseorang yang mempunyai peluang untuk menjadi pandai"
"Gunakan akal anda seolah-olah nyawa anda bergantung kepadanya"
www.familiazam.com
"Anda tidak akan berjaya menjadi penulis sekiranya anda tidak menjadi pembaca terlebih dahulu"
"Gunakan akal anda seolah-olah nyawa anda bergantung kepadanya"
www.familiazam.com
"Nyanyian ibu untuk menidurkan anaknya ketika kecil adalah suara yang paling merdu di dunia"
"Orang miskin memakan makanan nyang lebih enak daripada orang kaya kerana makanan mereka adalah berkat kepada kemiskinan mereka"
kata-kata mutiara
"Berusahalah dengan ikhlas tanpa memikirkan balasan semata-mata, kerana semakin tinggi keikhlasan di dalam diri, semakin tinggilah balasan baik yang akan diperolehi dalam keadaan sedar atau tidak"
www.familiazam.com
"Orang yang terlalu cepat berputus asa adalah orang yang putus harapan seumpama dia telah menyediakan dirinya untuk mati sebelum mati"
"Kesusahan tidak semuanya seksaan dan yang paling pahit itu bukan semuanya racun. Tetapi adakalanya lebih berguna daripada kesenangan yang terus-menerus"
www.familiazam.com
"Orang yang sebenarnya berani ialah mereka yang tak lekas patah hati, tetapi bertahan dengan menghadapi setiap dugaan dan cabaran"
"Jangan lihat apa yang telah kamu usahakan, tetapi lihatlah apa yang belum kamu selesaikan"
"Tiada siapa yang paling pandai dan paling bodoh di dunia ini kerana setiap yang pandai itu boleh menjadi bodoh dan setiap yang bodoh itu boleh menjadi pandai"
www.familiazam.com
"Setiap jiwa yang dilahirkan telah tertanam dengan benih untuk mencapai keunggulan hidup.Tetapi benih itu tidak akan tumbuh seandainya tidak dibajai dengan keberanian"
"Benarlah usaha itu tangga kejayaan. Tetapi jika tiada kesungguhan dan niat bukan kerana Allah, samalah seperti anda menggunakan tangga untuk turun ke bawah"
"Orang yang cemerlang melihat setiap halangan sebagai peluang untuk mengasah potensi, manakala orang yang tidak cemerlang menganggap setiap halangan sebagai alasan yang menyebabkan kemundurannya"
www.familiazam.com
"Tidak semua yang kita ingin mampu kita perolehi sebagaimana tidak semua yang kita perolehi adalah yang kita inginkan"
"Kejayaan adalah tangga yang tidak dapat anda panjat dengan tangan di dalam poket"
www.familiazam.com
"Orang yang selalu bersedih akan sukar mencapai apa yang dicita-citakan"
"Merasakan diri lemah adalah titik untuk memajukan diri"
"Janganlah kamu berkawan dengan orang yang suka melakukan maksiat, nanti hilang kebencian kamu terhadap maksiat"
www.familiazam.com
"Tiada sesuatu yang lebih bahaya kepada seseorang selain daripada kawan yang elok percakapannya tetapi buruk perbuatannya"
"Orang yang sangat dibenci oleh Allah ialah orang yang suka bermusuh-musuhan"
"Jangan dilupa pada yang putih. Ianya suci, bersih sudi juga mengingatkan kita pada usia"
www.familiazam.com
"Hidup yang berguna adalah hidup yang ketika petang membawa suluh untuk menghadapi malam yang akan sampai"
"Jadikanlah masa yang berlalu itu pengalaman dan pengajaran, masa yang sedang berjalan kita isi dengan amalan dan masa hadapan jangan terlalu diangan-angankan"
www.familiazam.com
"Suatu hari nanti kita pasti berhenti bekerja dengan manusia, tetapi tiada istilah berhenti bekerja dengan Allah melainkan perjuangan berakhir bersama nafas terakhir"
"Kekayaan yang hilang dapat dikejar kembali dengan kerajinan dan jimat cermat. Kesihatan yang hilang boleh direbut kembali dengan ubat-ubatan. Akan tetapi waktu yang hilang pasti tidak akan kembali"
www.familiazam.com
"Bila anda dapat bangun dari tidur pada suatu pagi, bermakna anda harus menjadikan hidup anda lebih bermakna sebagai tanda kesyukuranmu kepada Ilahi"
"Bersedekah dengan senyuman lebih baik daripada bersedekah dengan harta kerana bersedekah dengan senyum, manusia tidak terasa terhutang apa-apa dan tidak pula terasa dihina"
www.familiazam.com
"Janganlah engkau pandang ringan perbuatan baik, sekalipun hanya dengan menunjukkan muka manis ketika engkau bertemu dengan saudaramu"
"Jadilah seperti pohon kayu yang lebat buahnya, tumbuh di tepi jalan. Dilempar orang dengan batu tetapi dibalas dengan buah"
"Manusia tidak dapat mengubah rupa bentuk mukanya, tetapi jika dia mahu, dia boleh mempercantikkan budinya"
www.familiazam.com
"Perkataan yang baik tidak akan muncul dalam jiwa yang kotor seperti biji benih yang tidak akan tumbuh pada tanah yang gersang"
"Kekayaan yang paling kaya ialah akal, kemiskinan yang paling besar ialah bodoh, keburukan yang paling buruk ialah terpesona pada diri sendiri, dan semulia-mulia kelakuan ialah akhlak yang baik"
"Yang menentukan masa depan anda bukan kekayaan, kedudukan dan kebahagiaan yang anda capai, tetapi ke arah mana akan anda bawa semua itu"
www.familiazam.com
"Orang yang sibuk mengejar kepentingan dirinya sendiri akan mencipta banyak lawan"
"Jika kita bukan pelita yang menerangi malam, memadailah kita menjadi kunang-kunang yang akan menemani malam"
"Hidup adalah komedi bagi sesiapa yang hidupnya dengan akal. Dan merupakan tragedi bagi sesiapa yang hidup dengan emosi"
www.familiazam.com
"Berfikir sebelum berbuat adalah satu kebijaksanaan, berfikir selepas berbuat adalah satu kebodohan, berbuat tanpa berfikir adalah seribu kebodohan"
"Sesiapa yang dapat menahan marahnya, padahal dia berkuasa untuk melepaskan marahnya itu maka Allah memenuhi hatinya dengan iman dan rasa aman ketenangan"
www.familiazam.com
"Yang bernama perwira bukanlah yang banyak menjatuhkan lawan, tetapi perwira sejati ialah orang yang sanggup menguasai dirinya ketika marah"
www.familiazam.com
"Ilmu dan kepandaian itu adalah sahabat yang setia dalam hidup sampai kepada penghabisan umur"
"Ilmu itu didapati dengan lidah yang gemar bertanya dan akal yang suka berfikir"
www.familiazam.com
"Kita menilai diri sendiri berdasarkan apa yang kita mampu buat, orang lain menilai berdasarkan apa yang telah kita buat"
"Seorang guru yang jujur harus berniat agar muridnya lebih pintar daripadanya, manakala seorang murid yang jujur harus pula mengakui kepintaran gurunya"
www.familiazam.com
"Cintailah yang memberi nikmat dan jangan engkau cintai nikmat yang diberikan"
Wasiat perpisahan
http://www.youtube.com/watch?v=5LQ43xDaibs
Doa Nabi dalam menghadapi kesulitan beban keuangan, dibaca di depan rumah, sambil melihat ke langit dan menengadahkan tangan ke atas:
Wahai Dzat yang Maha Pengasih nan luas kasih-Nya. Hanya rahmat-Mulah yang aku minta, maka cukupkanlah aku dengan rizki-Mu yang halal, dari yang Engkau haramkan, dan cukupkanlah aku dengan mentaati-Mu, dari siapa saja selain diri-Mu.
http://www.youtube.com/watch?v=lhu6tkKamFM&feature=player_embedded
Apa yang anda lakukan jika anda mendapatkan hadiah BMW tetapi yang anda butuhkan saat ini adalah uang?
bmw for rent
Mari berandai-andai seperti ini dulu. Kata orang MLM kita jangan takut berandai-andai loh:
- Anda adalah anggota mlm
- Hari ini anda mendapatkan hadiah BMW dari mlm
- Anda memiliki 2340 downline pada saat ini
Menurut komentar Anthony Steven di sini, Realita yang pahit adalah:
MLM hanya memungkinkan sedikit sekali orang yang sukses (0.01%) dan itupun didapatkan mayoritas dari kegagalan sisanya (99.9%).
Maka dengan pertimbangan sebagai berikut:
- Semua orang ingin punya mobil mewah seperti BMW
- Dengan bergabung mlm, dalam waktu singkat bisa mendapatkan BMW *
- Downline anda butuh sekitar 2340 downline dibawahnya untuk mendapatkan BMW baru
- Testimonal tentang BMW anda sangat dibutuhkan oleh downline-downline anda
bagus gak? gw sih senyam senyum aja ngedenger bahwa Bill Gates bukanlah orang kaya yang memikirkan orang lain supaya kaya.
Oh iya kebetulan jadi ingat masa lampau waktu masih kuliah. Gw ditawarin proyek atau kerjaan sama temen gw, dan setelah gw janjian ketemu, ternyata pekerjaan dari mlm loh, dimana yang menjadi bos gw nantinya adalah diri gw sendiri *halah*.
Cerita tentang orang-orang yang dideketin ama MLM selalu bikin gw ketawa..
( Pengarang: cerita ini ana ambil dari sebagian anggota yang mengikutinya, dan bagaimanakah Hukum MLM itu sendiri mari kita simak selanjutnya…..!!!!!!tentang Hukum MLM
http://www.youtube.com/watch?v=ip13liHQ5Jc
"Ya..Alloh,dzat yang mengarahkan hati,arahkanlah hati kami kepada ketaatan kepadamu"
"Wahai dzat yang membolak-balikkan hati,teguhkanlah hatiku diatas dien-mu" Amiin..
Lawan rendah hati adalah sifat sombong. Tentang kesombongan, ditegaskan oleh Allah SWT dalam sebuah hadits qudsi :
أَلْكِبْرِيَاءُ رِدَائِ، وَالْعَظَمَةُ ِإزَاِريْ، فَمَنْ نَازَعَنِيْ ِفيْهِمَا قَََصَمْـتُهُ وَلاَ أُبَالِيْ
Kesombongan adalah selendang-Ku, keagungan adalah sarung-Ku. Siapa melepaskan kedua pakaian itu dari-Ku, maka Aku akan membinasakannya dan tidak akan Aku berikan rahmat kepadanya. (HR Muslim)
Syaikh az-Zarnuji memberi nasihat kepada kita agar menjauhi sifat sombong dalam sebuah syair yang tercantum dalam kitab karya beliau, yaitu “Ta‘lîm al-Muta‘allim” :
وَالْكِبْرِيَاءُ لِرَبِّـنَا صِـفَةٌ بِهِ * مَخْصُوْصَةٌ فَتَجَـنَّبْـنَهَا وَاتَّقِى
Kesombongan adalah satu sifat yang dimiliki Tuhan kita
Maka jauhilah sifat itu dan takutlah ( jagalah) dirimu
Mengapa terkadang bahkan seringkali kita sombong? Kenapa setan berhasil menanamkan sifat itu pada diri kita? Biasanya kita akan menyombongkan diri karena kelebihan yang kita miliki. Namun, adakalanya kita bersikap sombong justru untuk menutupi kekurangan kita. Banyak orang berkata,
“Sudah miskin, sombong pula.”
“Tak punya ilmu tapi lagaknya seperti ahli hadits.”
“Air beriak tanda tak dalam.”
“Tong kosong memang berbunyi nyaring.”
Banyak lagi ungkapan yang menunjukkan kesombongan. Kesombongan sebenarnya tak mempunyai kelebihan sedikit pun. Satu-satunya kelebihan yang dimiliki hanyalah sifat sombong itu sendiri. Dan, sungguh, itu sebuah kerugian.
Berikut ini penulis uraikan hal-hal yang bisa membuat diri kita menjadi sombong. Dengan mengetahuinya, maka kita bisa memohon kepada Allah agar terhindar dari sifat ini. Semoga Allah menjauhkan diri kita dari sifat sombong dan memelihara kita dengan sifat tawadhu‘, amin.
a. Harta
Harta bisa menjadikan diri kita merasa bangga yang berlebihan terhadap diri sendiri. Harta juga yang membuat kita pamer kepada orang lain, khususnya kepada orang yang tidak sekaya kita, apalagi terhadap orang-orang miskin.
Mungkin kita akan berkata, “Saya berhak sombong karena harta saya melimpah-ruah. Kekayaan saya dimakan 7 (tujuh) turunan juga tidak akan habis. Mulai dari anak, putu (bahasa Jawa, artinya cucu), buyut (cicit), canggah (ciut), wareng (piut), udeg-udeg (miut) dan gantung siwur (keturunan ketujuh).”
Dalam Al-Qur’an al-Karim, Allah membuat perumpamaan orang sombong karena kekayaan kebun yang dimiliki.
Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.
Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikit pun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu,
dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia, “Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat.”
(QS al-Kahfi [18] : 32-34)
Pertanyaannya adalah, “Apakah kita memang berhak sombong karena harta segunung?”
Ada sebuah kisah yang akan mengingatkan kita bahwa harta kekayaan yang kita miliki nilainya sangat sedikit. Pada suatu malam Khalifah Harun ar-Rasyid sedang gelisah, kemudian beliau meminta pengawalnya untuk mengundang seorang ulama ahli hikmah. Sesampai di istana, ulama tersebut disuguhi hidangan dan minuman air putih. Singkat cerita, terjadilah percakapan antara khalifah dengan sang ulama. Harun berkata,
“Kyai, saat ini saya sedang gelisah. Mohon nasihat dari Kyai agar pikiran saya tenang, hati pun tidak resah. Saya ingin mengaji.”
“Baginda, sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas jamuan ini. Kalau boleh, saya ingin bertanya,” kata sang ulama.
“Silakan, Kyai.”
“Begini, Baginda. Harga segelas air putih ini berapa ya?”
“Saya kira mau bertanya apa, Kyai. Harga segelas air putih itu murah sekali, hanya beberapa dirham. Kalau Kyai mau, nanti saya kirim berbotol-botol ke rumah Kyai. Bila perlu, sebanyak air di kolam istana.”
Sang ulama tersenyum tulus mendengar tawaran Harun ar-Rasyid. Baginya, senyum adalah ibadah, sebagaimana dicontohkan sang teladan mulia, Nabi Muhammad saw. Selanjutnya, ulama itu pun menjawab,
“Terima kasih atas kemurahan hati, Baginda. Kalau diperkenankan saya ingin bertanya lagi. Apakah Baginda percaya bahwa Allah Maha Kuasa?”
“Tentu, Kyai, Tentu… Saya umat Rasulullah saw. Termasuk kufur seandainya saya tidak percaya bahwa Allah Maha Kuasa,” sahut Harun segera. Ia kaget sekali ditanya seperti itu. Dalam pikirannya, ia bertanya-tanya apakah sang ulama meragukan keimanan dan keislamannya?
“Begini, Baginda. Sebagaimana keyakinan kita bersama, Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa. Misalnya saja Allah menjadikan musim ini musim kemarau yang sangat panjang, sehingga kerajaan ini dan kerajaan-kerajaan yang lain kekeringan—hanya tersisa satu gelas air ini saja yang bisa diminum. Kira-kira, Baginda mau membeli segelas air ini dengan harga berapa?” lanjut sang ulama.
Suasana hening sejenak. Harun ar-Rasyid mengerutkan keningnya untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan sang ulama—pertanyaan yang baginya sungguh aneh. Namun, dia percaya tidak mungkin sang ulama akan sembarangan bertanya, pasti ada hikmah di balik itu semua. Lalu sang Khalifah pun menjawab dengan mantap,
“Kyai, kalau memang itu yang dikehendaki Allah, dan Allah Maha Kuasa untuk melakukan itu semua; maka berdasarkan fiqh bahwa mempertahankan hidup hukumnya wajib, saya akan membeli segelas air putih itu dengan seluruh kerajaan saya beserta isinya. Harta bisa dicari Kyai, asalkan kita masih hidup.”
Sang ulama mengangguk pelan tanpa suara, menunjukkan dia benar-benar mengerti bahwa Harun bersungguh-sungguh dengan jawabannya. Dengan suara yang begitu tenang dan lembut, sang ulama melanjutkan nasihatnya,
“Begitu ya, Baginda. Kalau memang itu yang akan Baginda lakukan; maka ingatlah, ternyata seluruh harta kekayaan Baginda—kerajaaan beserta isinya—hanya seharga segelas air putih ini. Betapa Allah Maha Kaya, sedangkan kita makhluk yang fakir.”
Suasana kembali hening, kali ini lebih lama dari sebelumnya. Tiba-tiba, air mata menetes membasahi pipi Khalifah Harun ar-Rasyid. Sambil menangis, sang Khalifah berkata ,
“Kyai… Terima kasih atas nasihat bijaknya.”
Kisah di atas juga tercantum di buku tulisan Dr. ‘Aidh al-Qarni yang berjudul “Nikmatnya Hidangan Al-Qur’an (‘Alâ Mâidati Al-Qur’an)”, dengan versi yang berbeda namun intinya sama. Wallâhu a‘lam bish-shawâb. Seorang ulama bertanya kepada Khalifah Harun ar-Rasyid,
“Jika engkau tidak diizinkan Allah untuk meminum seteguk air-Nya, dapatkah kiranya engkau menebusnya dengan kekayaan dari kerajaanmu?”
“Demi Allah, tidak!” jawab Harun.
“Wahai Harun, dapatkah engkau menebus air yang telah engkau keluarkan dengan setengah perbendaharan kerajaanmu?”
Maksud air yang telah dikeluarkan adalah keringat, air seni dan sejenisnya. Bila Harun ar-Rasyid tidak bisa berkeringat, buang air kecil dan meneteskan air mata, apakah bisa ditukar dengan setengah perbendarahaan kerajaannya? Mendengar pertanyaan itu, Harun sadar bahwa apa yang dia miliki hanya sedikit saja. Dengan keyakinan mantap, Harun menjawab,
“Tidak, demi Allah. Kerajaan yang nilainya tidak lebih banyak dari seteguk air, bukanlah kerajaan yang sesungguhnya.”
Dari cerita tersebut, tidakkah kita sadar bahwa kita ini fakir? Apakah layak kalau kita sombong karena harta yang kita miliki?
Barangkali kita akan berkilah, “Ah, itu kan misalnya, hanya sebuah cerita; kalau musim kemarau berkepanjangan sehingga semua negara kekeringan. Itu dogma, tidak akan terjadi, apalagi di Indonesia. Di negara kita, air melimpah, banyak perusahaan AMDK (Air Minum Dalam Kemasan), bahkan PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) pun masih aman-aman saja.”
Kalau memang itu argumentasi kita, apakah kita tidak tahu bahwa Allah Maha Kuasa (Al-Qâdir) untuk mengembalikan kita seperti bayi lagi yang tidak punya harta sesen pun, dan itu bisa terjadi dalam hitungan detik sebagaimana Qarun dan seluruh hartanya? Tidak ingatkah kita bagaimana tsunami di Aceh telah meluluh-lantakkan semua bangunan? Apa kita lupa bagaimana gempa yang terjadi di nusantara serta belahan lain bumi ini telah meratakan semua rumah dan gedung? Harta yang kita kumpulkan bertahun-tahun, langsung lenyap dalam sekejap.
Mungkin kita masih menampik fakta tersebut dengan berkata, “Itu kan memang daerah rawan. Rumah saya di daerah aman, tidak akan ada tsunami atau gempa. Jadi tidak perlu kuatir.”
Kalau memang itu dalil kita, lupakah kita bahwa setiap musim liburan/lebaran, ada saja rumah, kompleks pertokoan atau pasar yang terbakar; dengan penyebab klasik, yaitu listrik korslet (hubungan arus singkat)? Padahal sudah ada pengaman listrik seperti sekering dan MCB (Mini Circuit Breaker)? Bukankah sudah kita lihat bersama-sama bagaimana banjir melanda berbagai wilayah negeri ini termasuk kota besar seperti Jakarta? Dalih apa lagi yang akan kita ajukan?
Bermegah-megahan dalam harta dan segala yang bersifat kebendaan bisa melalaikan kita akan pertemuan yang pasti di hari yang dijanjikan. Terlalu sibuk dalam sarana dan melupakan tujuan utama adalah suatu kebangkrutan. Bermegah-megahan dalam harta berarti usaha memperkaya diri dengan mengumpulkan dan menimbun kekayaan materi untuk dinikmati, tetapi tidak dinafkahkan sesuai hak dan kewajiban. Dengan demikian, itu justru berarti kemelaratan yang menyibukkan. Umur habis untuk mencari tetapi hakikatnya tanpa hasil.
Siapa yang mendahulukan bentuk daripada isi, mendahulukan kulit luar daripada niat dan tujuan utama, mendahulukan dunia daripada akhirat, dan mendahulukan makhluk daripada Khaliq adalah seorang hamba yang sesat jalan dan buruk nasibnya di akhirat kelak.
Sudah lupakah kita bahwa seluruh nikmat yang kita terima adalah anugerah Allah? Apakah kita mengira bahwa nikmat itu akan kekal selamanya? Apakah kita tidak memperhatikan firman Allah bahwa yang berhak sombong hanyalah Beliau Yang Maha Memiliki Kebesaran (Al-Mutakabbir)? Kalau kita mengenakan pakaian kesombongan, bukankah itu berarti kita menantang Allah? Tidakkah itu mengandung maksud bahwa kita memproklamirkan diri sebagai tuhan? Kalau sudah begitu, siapakah yang sanggup melawan Allah, Penguasa Alam Semesta (Mâlik Al-Mulk), Raja Diraja (Al-Malik) dengan semua ke-Mahagagahan dan ke-Mahaperkasaan-Nya? Wal ‘iyâdzu billâh.
Rasulullah Muhammad saw. bersabda :
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ مِثْـقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Tidaklah masuk surga seseorang yang di hatinya terdapat kesombongan sebesar dzarrah (atom). (HR Bukhari)
Menyadari kefakiran kita, marilah kita bersama-sama bermunajat kepada Allah :
أَللَّهُمَّ لاَمَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ رَاۤدَّ لِمَا قَضَيْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَالْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
Ya Allah, tiada yang dapat mencegah apa yang Engkau anugerahkan, tiada juga yang memberi apa yang Engkau cegah, tiada pula yang dapat menolak apa yang Engkau tetapkan. Tidak berguna dan tidak pula dapat menyelamatkan seseorang dari kekayaan, kedudukan, anak, pengikut dan kekuasaannya. Yang menyelamatkan dan berguna baginya hanyalah anugerah dan rahmat-Mu.
b. Ilmu
Ilmu yang kita miliki bisa menjadi fitnah, membuat diri kita menyombongkan diri di hadapan manusia, meremehkan mereka, seolah tidak ada orang berilmu seperti kita.
Kita akan berkata, “Sudah sewajarnya kalau saya memandang diri lebih tinggi dari orang lain. Saya sudah lulus pendidikan S1, S2, S3 bahkan Profesor. Saya seorang pakar, juga memperoleh banyak gelar profesional—CCIE, MCT, SCNA, SCJP, RHCE dan masih banyak lagi. Siapa yang lebih tinggi ilmunya dibandingkan saya?”
Bagi kita yang pernah menjadi santri di pesantren, bisa jadi kalimatnya seperti ini, “Saya sudah mondok di pesantren hampir 25 tahun. Saya pantas menyandang gelar al-‘Âlim, al-Fahmu (orang yang paham akan banyak hal), bahkan al-‘Allâmah (orang yang sangat tinggi ilmunya). Bagi mereka yang baru mondok 6 tahun masih dikategorikan anak TK. Mereka belajar agama baru pada tahap kulit, belum sampai kepada isi.”
Jika kita mengenyam pendidikan di luar negeri, mungkin dengan angkuhnya kita akan berucap, “Tidak ada orang secerdas saya. Saya ini paling rasional. Apa itu ulama-ulama zaman dulu, mereka orang-orang kuno, primitif dan tak layak lagi pemikirannya dipakai. Kitabnya saja kitab kuning, itu kan artinya kitab bulukan, lebih pantas dimakan rayap. Kita harus menggunakan metode baru yang lebih sistematis, ilmiah, aktual, intelek dan modern.”
Apakah sah kalau kita melakukan hal seperti itu? Tidakkah kita sadari bahwa di atas langit ada langit? Tidak mengertikah kita bahwa ilmu yang kita kuasai kita tidak sampai 1% dari keseluruhan disiplin ilmu yang saat ini sudah diketahui? Apalagi jikalau kita juga menghitung ilmu-ilmu yang masih dalam penelitian atau belum ditemukan, bisakah mencapai 0,1%-nya?
Bukankah tidak ada seorang dokter pun yang menguasai seluruh ilmu kedokteran? Setiap dokter punya spesialisasi sendiri-sendiri, misalnya spesialis tulang, penyakit dalam, anak, mata, kulit dan kelamin, neuro immunolog serta masih banyak lagi. Di bidang Teknologi Informasi juga masih dipilah-pilah, ada system administrator, network administrator, database administrator, programmer (2-Tier dan 3-Tier), desain grafis dan teknisi. Santri-santri di pondok pesantren pun terbagi-bagi, ada yang menekuni fiqh, bahasa dan sastra, tafsir, hadits dan sebagainya. Disiplin ilmu yang lain juga punya spesialisasi seperti itu.
Bila kita mengaku modern dan anti orang-orang lama, di manakah kita ketika para guru sekolah mengajarkan tentang Albert Einstein, Alessandro Volta, Alexander Fleming, Archimedes, Aristoteles, Daniel Bernoulli, James Clerk Maxwell, James Prescott Joule, James Watt, Michael Faraday, Michelangelo, Nicolaus Copernicus, Plato, Sir Isaac Newton, Socrates dan masih banyak lagi orang-orang seperti mereka yang notabene kuno menurut kita? Mengapa saat ini teori-teori kuno tersebut masih dipelajari bahkan digunakan? Lalu mengapa kita menolak mentah-mentah kitab-kitab yang disusun ulama-ulama zaman dulu? Masihkah kita merasa ilmu kita begitu tinggi dan hebat sehingga berhak merendahkan yang lain? Seorang penyair pernah berkata :
Katakan pada orang yang mengaku memiliki ilmu melimpah
Kau tahu satu hal namun banyak hal yang tidak kau ketahui
Barangkali kita akan berargumen, “Tapi kan, saya membandingkan diri saya dengan sesama manusia, bukan dengan Allah. Tidak ada orang yang berilmu seperti saya.”
Memang betul kita membandingkannya orang lain, tapi sekali lagi, sifat sombong hanya berhak disandang oleh Allah Yang Maha Mengetahui (Al-‘Alîm) serta Maha Luas Rahmat dan Ilmunya (Al-Wâsi‘).
Iblis (la‘natullâh ‘alayh) saja terusir dari sorga karena kesombongannya. Siapa sebenarnya Iblis? Ibnu Abbas ra. mengatakan, “Iblis adalah makhluk paling berilmu, tetapi ilmunya tidak bermanfaat, bahkan membuatnya pongah, sombong dan berbangga diri.”
Dalam beberapa riwayat, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dan ahli tafsir lainnya, konon Iblis adalah raja di langit dunia. Dia diberi wewenang di sana. Oleh sebab kekuasaannya, Iblis enggan bersujud ketika Allah berfirman kepada para malaikat untuk bersujud. Penolakan Iblis untuk bersujud merupakan bentuk keangkuhan. Kalimat-kalimat yang diucapkannya adalah awal dari nestapa, laknat dan penderitaan.
Bagaimana jika Allah mengingatkan kita karena kecongkakan kita, kemudian kita dicoba-Nya dengan penyakit, misalnya amnesia? Atau kita mengalami kecelakaan sehingga gegar otak? Bisa juga Allah menyadarkan kita tentang kelemahan kita dengan menaikkan tekanan darah kita sehingga terserang stroke. Na‘ûdzubillâh.
Umar bin Khaththab ra. memberi nasihat, “Jangan pelajari suatu ilmu karena tiga tujuan dan jangan pula meninggalkan ilmu karena tiga tujuan. Yakni, jangan pelajari ilmu dengan tujuan untuk berdebat, membanggakan diri dan pamer. Jangan tinggalkan ilmu (tidak mau belajar) karena malu mempelajarinya, merasa cukup berilmu dan pasrah karena kebodohan.”
Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Athaillah berpesan, “Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang memancarkan cahaya di dalam dada dan menyingkap katup hati.” Ilmu harus dapat membentuk diri orang yang berilmu dengan akhlak dan jiwa mulia, serta dapat membentuk anggota masyarakat sesuai dengan tuntunan Ilahi.
Hakikat ilmu adalah yang membawa seseorang mengenal Tuhannya dan timbulnya rasa takut (khasy-yah) kepada Allah. Yang dimaksud rasa takut adalah mengamalkan ilmu yang dianugerahkan Allah untuk menghambakan diri kepada-Nya sebagai ciri-ciri orang berilmu. Ilmu menjadi pendorong dan penguat jiwa untuk makin dekat kepada Allah, melebihi orang yang tidak berilmu.
Kalbu adalah wadah ilmu pengetahuan. Membersihkan kalbu merupakan hal yang sangat dianjurkan guna memperoleh pengetahuan yang jernih. Al-Ghazali menjelaskan, “Kalau kita membayangkan suatu kolam yang digali di tanah, maka untuk mengisinya dapat dilakukan dengan mengalirkan air sungai dari atas ke dalam kolam itu. Bisa juga dengan menggali tanah sehingga muncul mata air. Air akan mengalir dari bawah ke atas untuk memenuhi kolam, dan air itu jauh lebih jernih daripada air sungai yang mengalir dari atas. Kolam seumpama kalbu, air ibarat pengetahuan, sedangkan sungai laksana panca indera dan eksperimen.”
Ulama-ulama salaf, walaupun sangat dalam ilmunya, tetaplah rendah hati. Seseorang bertanya kepada Imam Malik tentang 40 (empat puluh) macam persoalan, tapi beliau hanya menjawab 8 (delapan) buah di antaranya dan diam dalam 32 (tiga puluh dua) masalah yang tersisa. Semua itu demi kehati-hatian, agar tidak salah dalam berfatwa.
Si penanya sampai berkata, “Engkau sungguh mengherankan, wahai Malik. Sedemikian inikah ilmu yang kau miliki? Kami bersusah payah datang mengendarai unta dari Irak dan kamu mengatakan tidak tahu!”
Imam Malik menjawab, “Pergilah kepada orang-orang dan katakan pada mereka, ‘Malik bin Anas tidak tahu apa-apa!’ ”
Imam Malik mengingatkan, “Ilmu itu bukan sekadar kepandaian atau banyak meriwayatkan hadits Nabi saw, akan tetapi ia merupakan nur yang bercahaya dalam hati. Manfaat ilmu akan mendekatkan manusia kepada Allah serta menjauhkannya dari kesombongan.”
Itulah Imam Malik, padahal Imam Syafi‘i pernah menyatakan, “Jika disebut ulama, maka Imam Malik-lah bintangnya.” Khalifah Abu Ja‘far al-Manshur berkata, “Di antara keajaiban dunia adalah otak Imam Malik.” Imam Malik memiliki keistimewaan dibandingkan ulama lain dari segi pengetahuan tentang sunnah Nabi saw. dan kecerdasan akal.
Salah satu murid Imam Malik, yaitu Muhammad bin Idris asy-Syafi‘i, juga demikian rendah hati. Imam Syafi‘i berkata, “Jika engkau menjawab pertanyaan dengan jawaban ‘aku tidak tahu’, maka jawabanmu benar adanya.”
Beberapa huffâzh (orang yang hapal ribuan hadits) bercerita,
“Kami melihat Imam Ahmad bin Hanbal (di Indonesia masyhur dengan sebutan Imam Hambali, salah satu imam madzhab) turun ke pasar Baghdad dan membeli tali pengikat kayu bakar lalu memikulnya di punggungnya. Tatkala orang tahu, para penjual meninggalkan jualannya, para pedagang meninggalkan dagangannya dan orang yang berlalu berhenti untuk memberi salam kepadanya. Mereka berkata,
‘Kami bawakan kayu bakarmu.’
Tangannya pun bergetar, mukanya memerah dan matanya menangis. Dia berkata,
‘Kita adalah kaum miskin, kalaulah bukan karena Allah niscaya terungkap aib kita’.”
Abdullah, putra Imam Ahmad bercerita, “Terompah ayahku dipakainya selama delapan belas tahun. Setiap kali berlubang, dia sendiri yang menambalnya, sedangkan dia adalah imam dunia.”
Betapa rendah hati beliau, padahal beliau hapal Al-Qur’an dan ribuan hadits. Imam Ahmad juga menulis al-Musnad dari hapalannya—empat ribu hadits—termasuk salah satu musnad terbesar. Imam Syafi‘i, guru beliau pun pernah berkata, “Aku keluar dari Baghdad dan penduduknya waktu itu dua juta jiwa. Demi Allah, aku tidak menemui orang paling tahu tentang Allah, paling zuhud, paling alim dan paling mencintaiku selain Ahmad bin Hanbal.”
Ibnu Athaillah berpesan, “Orang yang menghormatimu, sebenarnya ia hanya menghormati keindahan tutup yang diberikan Allah untuk (menutupi aib)-mu. Maka, yang wajib dipuji adalah Dzat yang menutupi (aib)-mu.” Manusia itu tempat salah dan aib. Apabila ada orang memuji kita, itu bukanlah karena kehormatan yang ada pada diri kita, akan tetapi karena Allah menutupi aib kita dengan menampakkan kebaikan kita. Itu semua berkat penutup yang sangat indah dari Allah Jalla Jalâluh. Karunia Allah dan penutup indah ini hendaklah disyukuri, bukan untuk disombongkan.
Untuk menjaga agar tetap rendah hati, mari kita renungkan bersama terjemah firman-firman Allah berikut ini :
Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur (menggunakannya sesuai petunjuk Ilahi untuk memperoleh pengetahuan) (QS an-Nahl [16] : 78)
وَمَاۤ أُوْتِيْتـُمْ مِنَ ٱلْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيْلاً
Kamu tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit (QS al-Isrâ’ [17] : 85)
Katakanlah, “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS al-Kahfi [18] : 109)
Al-Qur’an menggarisbawahi bahwa rahasia ilmu Allah hanya tercurah kepada mereka yang tidak menyombongkan diri.
Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku.
(QS al-A‘râf [7] : 146)
Rasulullah Muhammad saw. juga mengingatkan kita :
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوْهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللهُ النَّارَ
Siapa menuntut ilmu untuk mendebat ulama (karena riya’ dan harga diri), atau untuk mempecundangi orang-orang bodoh, atau untuk memalingkan muka orang-orang ke arah dirinya (sehingga namanya terkenal sebagai orang alim), maka niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.
(HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Imam Syafi‘i pernah menggubah kata-kata bersayap, “Aku mengeluh pada guruku tentang kelemahan hapalanku, maka dituntunnya aku agar meninggalkan kemaksiatan. Diajarkannya kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya, sedang cahaya Allah tidak dianugerahkan kepada si durhaka.”
Ja‘far ash-Shadiq menuturkan, “Pengetahuan bukanlah apa yang diperoleh melalui proses belajar-mengajar, tetapi cahaya yang ditampakkan Tuhan ke dalam hati orang-orang yang dikehendaki-Nya.”
Dalam kitab “Ta‘lîm al-Muta‘allim”, Syaikh Hammad bin Ibrahim al-Anshari membacakan sebuah syair kepada Syaikh az-Zarnuji tentang bagaimana harus menuntut ilmu.
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِلْمَعَادِ * فَازَ بِفَضْلٍ مِنَ الرَّشَادِ
Berita yang Besar
http://www.youtube.com/watch?v=4wRfWT9LZsY
Hukum Gambar
http://www.youtube.com/watch?v=VRPtiJC1Bgw
PENDAHULUAN
Segala puji bagi Alloh Ta’ala, sholawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan dan qudwah kita Muhammad bin Abdillah, segenap keluarga dan shahabat beliau serta orang-orang yang selalu istiqomah dan komitmen terhadap jejak dan jalan beliau sampai hari kiamat.
Dan sungguh Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan dalam beberapa sabda beliau, baik yang tertulis dalam Sunan, Musnad dan ash-Shihah yang menunjukkan diharamkannya gambar makhluk yang bernyawa, baik berwujud manusia atau selainnya. Sehingga kita dianjurkan dan diperintahkan untuk memusnahkan gambar-gambar tersebut bahkan para tukang gambarnya mendapatkan laknat dan mereka termasuk seberat-berat manusia yang akan mendapatkan siksa pada hari kiamat kelak.
Namun gambar dalam pengertian pada kitab-kitab hadits tersebut, adalah gambar dalam makna melukis dengan tangan, sehingga gambar dalam makna fotografi yang berkembang saat ini, menjadi hal yang diperselisihkan.
Dan untuk lebih jelasnya, dalam rubik ini akan kami paparkan permasalahan ini secara terperinci berkaitan tentang hakikat dan hukum gambar yang sebenarnya (yang diharamkan dan yang diperbolehkan) berdasarkan dalil-dalil yang shohih berikut pendapat sebagian Ulama tentang masalah ini. Insya Alloh .
HAKIKAT GAMBAR
Pada hakikatnya menggambar itu terbagi menjadi dua bentuk:
1. Gambar dengan tangan (melukis), yaitu seseorang dengan keahlian tangan dan inspirasinya menggambar atau melukis dengan memakai alat-alat lukis, baik yang dilukisnya itu dalam bentuk makhluk hidup yang bernyawa ataupun selainnya.
2. Gambar dengan alat ( fotografi/kamera ), yaitu seseorang dengan memakai kecanggihan tehnologi (kamera) memindahkan media yang dinginkan menjadi sebuah gambar, baik media tersebut dalam bentuk makhluk hidup bernyawa atau selainnya.
HUKUM GAMBAR
Sebelum kita bahas tentang hukum gambar sebenarnya dalam timbangan syara’, maka perlu diketahui dan dipahami bahwa gambar berdasarkan hukumnya bisa terbagi menjadi dua bagian.
Gambar yang tidak bernyawa
Seperti gunung, sungai, matahari, bulan dan pepohonan atau benda mati yang lain. Maka yang demikian tidak terlarang menurut mayoritas Ulama, meskipun ada yang berpendapat tidak bolehnya menggambar sesuatu yang berbuah dan tumbuh seperti pohon, tumbuh-tumbuhan dan semacamnya, namun pendapat ini lemah.
Gambar yang bernyawa
Menggambar semacam ini terbagi menjadi dua bentuk:
a.Menggambar dengan tangan (melukis), maka yang seperti ini terlarang dan hukumnya haram. Dan perbuatan yang demikian termasuk salah satu dari dosa-dosa besar. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam yang telah memberikan peringatan dan ancaman keras sebagaimana yang terdapat dalam beberapa hadits di bawah ini :
1.Riwayat Ibnu Abbas:
Artinya, “Setiap pelukis berada dalam neraka, dijadikan kepadanya setiap apa yang dilukis/digambar bernyawa dan mengadzabnya dalam neraka Jahannam.” (H.R Muslim).
2.Riwayat Abu Khudzaifah
Bahwa Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah melaknat orang yang makan riba, dan orang yang memberi makan dari riba, dan orang yang bertato, dan yang minta ditato, dan pelukis/tukang gambar.” (H.R Bukhori )
2.Riwayat ‘Aisyah
Bahwa Rosululloh Shollallohu alaihi wa sallam bersabda, “Seberat-berat manusia yang teradzab pada hari kiamat adalah orang-orang yang ingin menyerupai ciptaan Alloh.” ( H.R Bukhori dan Muslim ).
3.Riwayat Abu Huroiroh,beliau mendengar Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Alloh Ta’ala berfirman: Dan siapa yang lebih celaka daripada orang yang menciptakan ciptaan seperti ciptaan-Ku, maka hendaklah mereka ciptakan sebutir jagung, biji-bijian dan gandum (pada hari kiamat kelak).” (H.R Bukhori dan Muslim)
Dan menggambar (melukis) yang dimaksud pada beberapa hadits di atas adalah menggambar dengan tangan, yaitu seseorang dengan keahlian dan inspirasinya serta imajinasinya memindahkan sebuah gambar ke dalam kanvas dengan tangannya sampai kemudian sempurna menyerupai ciptaan Alloh Ta’ala, karena dia berusaha memulai sebagaimana Alloh Ta’ala memulai, dan menciptakan sebagaimana Alloh Ta’ala menciptakan. Dan meskipun tidak ada niatan sebagai upaya penyerupaan, namun suatu hukum akan berlaku apabila tergantung atas sifatnya. Maka manakala terdapat sifat, terdapat pula hukum, dan seorang pelukis gambar apabila melukis/menggambar sesuatu maka penyerupaan itu ada (terjadi) walaupun tidak diniatkan. Dan seorang pelukis pada umumnya tidak akan bisa terlepas dari apa yang diniatkan sebagai penyerupaan, dan ketika apa yang digambar itu hasilnya lebih baik dan memuaskan maka seorang pelukis akan bangga dengannya. Dan penyerupaan akan terjadi hanya dengan apa yang dia gambar, baik dikehendakinya atau tidak. Karena itulah ketika seseorang melakukan perbuatan yang menyerupai perbuatan orang lain, maka kita akan berkata: “Sesungguhnya perbuatan ini menyerupai perbuatan itu, walaupun yang melakukan tidak bermaksud menyerupai.“
b.Menggambar dengan menggunakan selain tangan, seperti menggambar dengan kamera (fotografi), yang dengannya sesuatu ciptaan Alloh Ta’ala bisa berubah menjadi sebuah gambar, dan orang yang melakukannya tanpa melakukan sesuatu kecuali mengaktifkan alat kamera tersebut yang kemudian menghasilkan sebuah gambar pada sebuah kertas.
Maka bentuk menggambar semacam ini, di dalamnya terdapat permasalahan diantara para Ulama’, karena yang demikian tidak pernah ada dan terjadi pada jaman Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam, khulafa’ur Rosyidin, dan Ulama terdahulu dari kalangan as-Salaf. Sehinga Ulama setelah mereka berbeda pendapat dalam menyikapinya:
1.Sebagian dari mereka mengatakan tidak boleh, dan hal ini sebagaimana menggambar dengan tangan berdasarkan keumuman lafadz (secara uruf/kebiasaan).
2.Sebagian dari mereka membolehkan, karena secara makna bahwa mengambar dengan memakai alat kamera tidak seperti perbuatan pelukis yang dengannya ada penyerupaan terhadap ciptaan Alloh Ta’ala.
Dan pendapat yang mengatakan diharamkannya menggambar dengan memakai alat kamera lebih berhati-hati, sementara pendapat yang mengatakan halalnya lebih sesuai dengan kaidah yang ada. Akan tetapi mereka yang mengatakan halal ini mensyaratkan agar gambar yang dihasilkan tidak merupakan perkara yang haram seperti gambar wanita (bukan mahrom), atau gambar seseorang dengan maksud untuk digantungkan dalam kamar untuk mengingatnya (sebagai pajangan), atau gambar yang tersimpan dalam album untuk dinikmati dan diingat. Maka yang demikian haram hukumnya karena mengambil gambar dengan alat kamera dan menikmatinya dengan maksud selain untuk dihina dan dilecehkan haram menurut sebagian besar Ulama sebagaimana yang demikian telah dijelaskan dalam as-Sunnah as-Shohihah.
Adapun terhadap gambar (foto) yang digunakan untuk tujuan dan kepentingan tertentu, seperti foto untuk KTP, paspor, STNK, dan kegiatan yang dengannya diminta sebagai bukti kegiatan maka yang demikian tidaklah terlarang.
Sementara foto kenangan, seperti pernikahan, dan acara-acara selainnya yang dengannya untuk dinikmati tanpa ada kepentingan yang jelas maka hukumnya haram. Sebagaimana sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam saat menjelaskan bahwa para malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada gambar. Dan bagi siapa saja yang memiliki foto-foto demikian agar memusnahkannya, sehingga kita tidak berdosa lantaran foto-foto tersebut. Dan tidak ada perbedaan, apakah gambar tersebut memiliki bayangan (berbentuk) atau tidak, sebagaimana tidak ada perbedaan apakah menggambarnya dalam rangka untuk main-main, atau menggambarnya di papan tulis untuk menjelaskan makna sesuatu agar mudah dipahami oleh siswa, dan yang demikian maka seorang guru tidak boleh menggambar di papan tulis gambar manusia ataupun hewan.
Namun dalam keadaan terpaksa, seorang guru boleh menggambar bagian dari tubuh seseorang, seperti kaki kemudian menjelaskannya dan setelah itu menghapusnya, dan kemudian menggambar tangan, atau kepala sebagaimana cara di atas. Maka yang demikian tidak terlarang.
HUKUM MELIHAT GAMBAR
Adapun hukum melihat gambar yang terdapat dalam majalah, koran, televisi (termasuk internet karena pada dasarnya dapat disebut majalah elektronik) secara terperinci sebagai berikut:
1.Gambar Manusia
Jika yang dilihat gambar manusia dengan maksud untuk kenikmatan dan kepuasan maka yang demikian haram hukumnya, dan jika bukan dalam rangka itu yang dengan melihatnya tidak dengan tujuan kepuasaan atau kenikmatan, hati dan syahwatnya tidak tergerak karena hal itu, maka tidak apa-apa. Dan hal inipun dengan syarat terhadap mereka yang halal untuk dilihat, seperti laki-laki melihat laki-laki, dan wanita melihat wanita menurut pendapat yang kuat hal ini tidak terlarang dengan syarat sesuai dengan kebutuhan (seperlunya) alias bukan semata karena menginginkan gambar itu.
Dan jika yang dilihat adalah mereka yang tidak halal untuk dilihat, seperti laki-laki melihat wanita (bukan mahrom), maka hukum tentang hal ini masih samar dan meragukan namun pendapat yang berhati-hati adalah tidak melihatnya karena khawatir terjadi fitnah Sebagaimana sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud Rodhiallohu anhu :“Janganlah seorang wanita tidur bersama dalam satu selimut (bersentuhan tubuh) dengan wanita yang lain sehingga dia membeberkan sifatnya kepada suaminya seolah-olah melihat wanita tersebut.“ (HR.Bukhori ).
Dan membeberkan sifat sesuatu melalui gambar (bentuk tubuh) lebih mengena daripada dengan sekedar membeberkan sifat saja. Dan menjauhi dari setiap perantara fitnah merupakan perkara yang harus dilakukan.
Catatan:
Untuk menghindari kesalahpahaman seakan laki-laki boleh melihat gambar sekalipun gambar wanita asing, maka hal ini perlu dirinci lebih lanjut, yaitu:
Jika yang dilihat adalah wanita tertentu (secara khusus/pribadi karena sudah dikenal atau diidolakan) dengan tujuan menikmati dan untuk kepuasan syahwat, maka hukumnya haram karena ketika itu jiwanya sudah tertarik padanya dan terus memandang, bahkan bisa menimbulkan fitnah besar. Dan jika tidak demikian, dalam artian hanya sekedar melihat tanpa ada perasaan apa-apa (numpang lewat saja) dan tidak membuatnya mengamat-amati, maka pengharaman terhadap hal seperti ini perlu diberi catatan dulu, karena menyamakan melihat sekilas dengan melihat secara hakiki tidaklah tepat karena adanya perbedaan dari keduanya amat besar, akan tetapi sikap yang utama adalah menghindari karena hal itu menuntun seseorang untuk meilihat dan selanjutnya mengamat-amati, kemudian menikmati dengan syahwat, oleh karena itulah Rosululloh melarang hal itu sebagaimana hadits (artinya),
“Janganlah seorang wanita tidur bersama dengan wanita yang lain dalam satu selimut (bersentuhan tubuh) sehingga dia membeberkan sifatnya kepada suaminya seolah-olah melihat wanita tersebut.“ (H.R. Bukhari ).
Sedangkan bila terhadap bukan wanita tertentu (tidak bersifat khusus/pribadi dan pada asalnya tidak mengenalnya), maka tidak apa-apa melihatnya bila tidak khawatir terjerumus ke dalam larangan syari’at.
2.Gambar selain manusia, maka tidak apa-apa melihatnya selama ia tidak bermaksud untuk memilikinya.
PENUTUP
Dari penjelasan di atas, kita berharap permasalahan yang ada menjadi jelas. Semoga Alloh Ta’ala senantiasa memberikan hidayah dan taufiq kepada kita semua. Wallohu a’lam bish showab.
(Disarikan dari Majmû’ Fatâwa Wa Rasâ`il Syaikh Muhammad Bin Sholih al-Utsaimîn, oleh Fahd Bin Nâshir Bin Ibrohim as-Sulaiman)
Hukum seputar Musik
http://www.youtube.com/watch?v=we_gXxK0FRA
HUKUM MUSIK DAN LAGU
dalam PANDANGAN AL QUR’AN DAN AS SUNNAH
Sumber dari:
Muharramatustahaana bihannasu Yajibulhazru min ha hal: 100 – 102 Oleh: Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajid.
Buyuut La tad Khuluha al-Malaikatu Hal: 117 – 121 Oleh: Syaikh Abu Huzaifah Ibrahim
Segala puji bagi Allah, Kita memuji, memohon pertolongan dan meminta ampun kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri dan amal perbuatan. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak adayang bisa menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.
Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban yang tidak boleh diabaikan, memberi beberapa ketentuan yang tidak boleh dilampaui dan mengharamkan beberapa perkara yang tidak boleh dilanggar.
Dan selanjutnya Allah mengancam orang yang melampaui ketentuan-ketentuan-Nya dan melanggar apa yang telah diharamkan-Nya, seperti ditegaskan dalam Al-Qur’an yang artinya: "Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya danmelanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya dan baginya siksa yang menghinakan."(An-Nisa’ : 14).
Menjauhi hal-hal yang dilarang adalah hukumnya wajib. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam: "Apapun yang aku larang atas kalian maka jauhilah, dan apapun yang aku perintahkan kepada kalian maka lakukanlah dari padanya semampumu." (HR. Muslim)
Pada kesempatan kali ini, redaksi Risalah Dakwah Al-Hujjah menyuguhkankepada pembaca yang budiman mengenai Hukum Musik dan Lagu yang InsyaAllah akan kami bahas dengan cara ilmiah menurut pandangan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang syahih, perkataan para sahabat, para Imam serta fatwa para ulama’Ahlus-Sunnah wal Jama’ah.
Oleh sebab itu marilah kita melihat dalil-dalil baik dari Al-Quran maupun hadits-hadits yang sahih tentang masalah tersebut, yaitu:Allah Ta’ala berfirman:"Dan di antara manusia (ada) yang mempergunakan lahwul hadits untukmenyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu bahan olok-olokan." (Luqman: 6)
Mengenai ayat ini Ibnu Abbas r.a berkata bahwa Lahwal hadist dalam ayat ini berarti "Nyanyian". Sebagaimana diketahui bahwa Ibnu Abbas r.a adalah seorang sahabat yang mendapat do’a dari Rasulullahu shallallahu alaihiwassalam:"Ya Allah anugrahkanlah kefakihan kepadanya dalam agama ini dan ilmu ta’wil." Dengan do’a dari Rasulullah tersebut para sahabat memberikan gelar kepada Ibnu Abbas r.a dengan gelar "Turjumanul Qur’an" (Penafsir Al-Qur’an).
Ibnu Mas’ud r.a menerangkan bahwa Lahwal hadist itu adalah al-Ghina(nyanyian). Demi Allah yang tiada sesembahan selain Dia, 3x. Pernyataan Rasulullah mengenai Ibnu Mas’ud adalah "Sesungguhnya ia adalah pentalkin yang mudah difahami."Dalam ayat yang lain Allah berfirman kepada setan:"Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu."(Al-Isra’: 64)
Ibnu Abbas r.a mengatakan : "Suaramu" dalam ayat ini adalah segala yang membawa kepada kemaksiatan.
Mujahid, pemimpin para ahli tafsir (murid Ibnu Abbas r.a) menyatakan bahwa"Suaramu" disini artinya "Al-Ghina" (nyanyian) dan Al-Bathil.
Hasan Al-Basri berkata bahwa ayat ini turun dalam masalah musik dan lagu. Ibnu Qayyim menambahkan keterangan dari Hasan Al-Basri bahwa "suaramu" dalam ayat ini adalah duff (rebana). Wallahu a’lam.
Kemudian ayat yang ketiga dalam surat An-Najm: 59-60, Allah berfirman:"Maka apakah kamu merasa heran dengan pemberitaan ini dan kamu mempertawakan dan tidak menangis sedang kamu bernyanyi-nyanyi."
Kata Ikrimah r.a dari Ibnu Abbas r.a bahwa kata "As-Sumud" dalam akhir ayat ini berarti Al-Ghina menurut dialek Himyar. Dia menambahkan bahwa jika mendengar Al-Qur’an dibacakan, mereka bernyanyi-nyanyi, maka turunlah ayat ini.
Dalam hadist yang sahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari sahabat Abi Amir dan Abi Malik Al Asy’ari Rasulullah saw bersabda:"Akan muncul dari kalangan ummatku sekelompok orang yang menghalalkan farj (perzinahan), sutera, khamar dan alat-alat musik." (lihat Fatul Bari, 10/51).
Dengan kata lain, akan datang suatu masa di mana beberapa golongan dari umat Islam mempercayai bahwa zina, memakai sutera asli, minum-minuman keras dan musik hukumnya halal, padahal semua itu adalah haram.Adapun yang dimaksud dengan musik di sini adalah segala sesuatu yang menghasilkan bunyi dan suara yang indah serta menyenangkan. Seperti kecapi,gendang, rebana, seruling, serta berbagai alat musik modern yang kini sangat banyak dan beragam. Bahkan termasuk di dalamnya jaros (lonceng, bel,klentengan).
Secara pasti, hadist tersebut diatas menegaskan keharaman nyanyian. Kalaupun tidak ada hadist lain yang menerangkan keharaman nyanyian, hadist di atas dianggap memadai menjadi dalil keharaman nyanyian, khususnya nyanyian yang syairnya tak bernilai disertai tingkah penyanyi yang tidak memiliki adab sopan santun.
Dan dalam hadist yang lain dari sahabat Anas bin Malik r.a, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:"Kelak akan terjadi pada ummat ini (tiga hal): (Mereka) ditenggelamkan(kedalam bumi), dihujani batu, dan diubah bentuk mereka, yaitu jika merekaminum arak, mengundang biduanita-biduanita (untuk menyanyi) dan menabuh (membunyikan) musik." (As-Silsilah Ash Shahihah, 2203, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam kitab Dzammul Malahi dan At-Tarmidzi No. 2212).
Para pembaca yang budiman, untuk lebih ilmiahnya pembahasan ini marilah simak perkataan para sahabat dan para imam serta para ulama mengenai masalah ini:
Abu Bakar Shiddiq r.a: "Nyanyian dan alat musik itu adalah seruling setan."
Abdullah bin Mas’ud r.a: "Nyanyian itu dapat menyebabkan kemunafikan dalam hati."
Al-Qasim bin Muhammad: "Menyanyi itu termasuk perbuatan bathil dan setiap yang bathil bagiannya adalah neraka."
Khalifa Umar bin Abdul Aziz: "Nyanyian itu berawal dari setan dan ujungnya adalah kebencian Allahurrahman."
Imam Malik bin Anas: "Bagi kami nyanyian itu hanya dilagukan olehorang-orang fasik."
Imam Syafi’i: "Menyanyikan nyanyian adalah perbuatan sia-sia yang dibencidan menyerupai kebathilan dan kesia-siaan." Serta dalam kitabnya Al Qadha’beliau berkata: "Nyanyian adalah kesia-siaan yang dibenci, bahkan menyerupai perkara batil. Barangsiapa memperbanyak nyanyian maka dia adalah orang dungu, syahadat (kesaksiannya) tidak dapat diterima."
Imam Ahmad bin Hambal: "Nyanyian itu dapat menumbuhkan nifak dihati. Saya sama sekali tidak tertarik pada hal seperti itu."
Para pengikut Imam Abu Hanifah: "Mendengar nyanyian itu termasuk perbuatan fasikn dan tenggelam dalam keasyikannya merupakan kekufuran."
Imam Qurthubi: "Nyanyian itu merupakan salah satu yang dilarang dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah."
Imam Ibnu Shalah: "Nyanyian yang diiringi musik hukumnya haram secaraujma’."
Nyanyian dan musik merupakan dua pintu yang dilalui setan untuk merusak hati dan jiwa. Kaitannya dengan hal itu, Imam Al-Hafiz Ibnu Qayyim al-Jauziyyahberkata: "Diantara tipu daya setan - musuh Allah - dan diantara jerat yang dipasangnya untuk orang yang sedikit ilmu, akal dan agamanya, sehingga orang yang bersangkutan tersebut terjebak kedalamnya untuk mendengarkan kidung dan nyanyian yang diiringi musik yang diharamkan. Satu hal yang mengherankan adalah sebagian manusia yang mengaku memiliki konsentrasi untuk ibadah justru telah menjadikan nyanyian, tarian dan lagu-lagu lain sebagai wahana untuk beribadah sehingga mereka meninggalkan Al-Qur’an.Ibnu Qayyim dalam kitabnya "Ighatsatul-Lahfan min Mashayidisy-Syaithan" menamai nyanyian seperti itu dengan sepuluh nama, yaitu: lahwun (main-main),laghwun (pekerjaan sia-sia), zuur (kebathilan), muka (siulan), tasydiah(tepuk tangan), ruqyatuz-zina (jimat dalam perzinahan), pedomannya setan, penumbuh nifak didalam hati, suara kedunguan, suara yang penuh dosa, suara setan atau seruling setan.
NYANYIAN YANG DIPERBOLEHKAN
Ada beberapa nyanyian yang diperbolehkan yaitu:? Menyanyi pada hari raya. Hal itu berdasarkan hadits A’isyah:"Suatu ketika Rasul Shallallahu ’Alaihi Wasallam masuk ke bilik ’Aisyah,sedang di sisinya ada dua orang hamba sahaya wanita yang masing-masing memukul rebana (dalam riwayat lain ia berkata: "... dan di sisi saya terdapat dua orang hamba sahaya yang sedang menyanyi."), lalu Abu Bakar mencegah keduanya. Tetapi Rasulullah malah bersabda: "Biarkanlah mereka karena sesungguhnya masing-masing kaum memiliki hari raya, sedangkan hari raya kita adalah pada hari ini." (HR. Bukhari). Menyanyi dengan rebana ketika berlangsung pesta pernikahan, untuk menyemarakkan suasana sekaligus memperluas kabar pernikahannya. NabiShallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda:"Pembeda antara yang halal dengan yang haram adalah memukul rebana dan suara(lagu) pada saat pernikahan." (Hadits shahih riwayat Ahmad).
Yang dimaksud di sini adalah khusus untuk kaum wanita. Nasyid Islami (nyanyian Islami tanpa diiringi dengan musik) yang disenandungkan saat bekerja sehingga bisa lebih membangkitkan semangat,terutama jika di dalamnya terdapat do’a. Rasulullah Shallallahu ’AlaihiWasallam menyenandungkan sya’ir Ibnu Rawahah dan menyemangati para sahabat saat menggali parit. Beliau bersenandung:"Ya Allah tiada kehidupan kecuali kehidupan akherat maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin."Seketika kaum Muhajirin dan Anshar menyambutnya dengan senandung lain:"Kita telah membai’at Muhammad, kita selamanya selalu dalam jihad."Ketika menggali tanah bersama para sahabatnya, Rasul Shallallahu ’Alaih Wasallam juga bersenandung dengan sya’ir Ibnu Rawahah yang lain:"Demi Allah, jika bukan karena Allah, tentu kita tidak mendapat petunjuk,tidak pula kita bersedekah, tidak pula mengerjakan shalat. Maka turunkanlah ketenangan kepada kami, mantapkan langkah dan pendirian kami jika bertemu(musuh) Orang-orang musyrik telah mendurhakai kami, jika mereka mengingin-kan fitnah maka kami menolaknya."
Dengan suara koor dan tinggi mereka balas bersenandung "Kami menolaknya, ...kami menolaknya." (Muttafaq ’Alaih)Nyanyian yang mengandung pengesaan Allah, kecintaan kepada Rasululah Shallallahu ’Alaihi Wasallam dengan menyebutkan sifat-sifat beliau yang terpuji; atau mengandung anjuran berjihad, teguh pendirian dan memper-baiki akhlak; atau seruan kepada saling mencintai, tolong menolong di antara sesama; atau menyebutkan beberapa kebaikan Islam, berbagai prinsipnya serta hal-hal lain yang bermanfaat buat masyarakat Islam, baik dalam agama atau akhlak mereka.
Di antara berbagai alat musik yang diperbolehkan hanyalah rebana. Itupun penggunaannya terbatas hanya saat pesta pernikahan dan khusus bagi para wanita. Kaum laki-laki sama sekali tidak dibolehkan memakainya. Sebab Rasul Shallallahu ’Alahih Wasallam tidak memakainya, demikian pula halnya dengan para sahabat beliau Radhiallahu ’Anhum Ajma’in.Orang-orang sufi memperbolehkan rebana, bahkan mereka berpendapat bahwa menabuh rebana ketika dzikir hukumnya sunnat, padahal ia adalah bid’ah,Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda: "Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah. dan setiap bid’ah adalah sesat." (HR. Turmudzi, beliauberkata: hadits hasan shahih).
KIAT MENGOBATI VIRUS NYANYIAN DAN MUSIK
Di antara beberapa langkah yang dianjurkan adalah:Jauhilah dari mendengarnya baik dari radio, televisi atau lainnya, apalagi jika berupa lagu-lagu yang tak sesuai dengan nilai-nilai akhlak dan diiringi dengan musik.Di antara lawan paling jitu untuk menangkal ketergantungan kepada musik adalah dengan selalu mengingat Allah dan membaca Al Qur’an, terutama surat Al Baqarah. Dalam hal ini Allah Ta’ala telah berfirman:"Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan sebagai penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada danpetunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman."(Yunus: 57)
"Sesungguhnya setan itu lari dari rumah yang di dalamnya dibaca surat AlBaqarah." (HR. Muslim)
Membaca sirah nabawiyah (riwayat hidup Rasul Shallallahu ’Alaihi Wasallam),demikian pula sejarah hidup para sahabat beliau.
SANGGAHAN UNTUK PARA PENGIKUT HAWA
Sering kita saksikan, sebagian para pengikut hawa nafsu, orang-orang yang lemah jiwa dan sedikit ilmunya manakala mendengar perkara-perkara yang diharamkan secara berturut-turut ia berkeluh kesah sambil berujar: Segalanya haram, tidak ada sesuatu apapun kecuali kamu mengharamkannya, kamu telah menyuramkan kehidupan kami, kamu membuat gelisah hidup kami, menyempitkan dada, kamu tidak memiliki selain haram dan mengharamkan. Agama ini mudah,persoalannya tak sesempit itu dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Untuk menjawab ucapan mereka, kita katakan sebagai berikut: Sesungguhnya Allah Subhanallahu Wata’ala menetapkan hukum menurut kehendak-Nya, tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya. Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui,maka Ia menghalalkan apa yang Ia kehendaki dan mengharamkan apa yangdikehendaki-Nya pula dan diantara pilar kehambaan kita kepada Allah Azza Wajalla adalah hendaknya kita ridha dengan apa yang ditetapkan olehnya,pasrah dan berserah diri kepada-Nya secara total. Wallahu a’lam.
http://www.youtube.com/watch?v=iLxVEbS88tw
Jadilah Seperti Mereka…
http://www.youtube.com/watch?v=CS75IL5YVpU
MEMBALAS KE BURUKAN DENGAN KEBAIKAN
Membaca kehidupan orang-orang sholeh sungguh menakjubkan. Terlebih lagi jika mereka adalah generasi terbaik umat ini. Kehidupan mereka bertabur mutiara hikmah dan pelajaran berharga bagi kehidupan generasi sesudahnya.
Kitab-kitab sejarah dan sunnah telah menorehkan lembaran-lembaran emas kehidupan mereka. Beruntunglah orang-orang yang meneladani mereka dengan baik.
( وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ) (التوبة:100)
Artinya, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”.
Pertemuan kali ini, kita bersama sebuah kisah menakjubkan yang dinukilkan kepada kita oleh “kutubussunnah”. Kisah yang terjadi antara dua orang sahabat mulia; Abu Bakr Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu. Manusia paling afdhol setelah para rasul dan nabi. Kholifah Ar-Rosyid yang pertama semoga Allah meridhoinya. Dan khodim Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Yang pernah memintanya untuk menemaninya di surga. Lantas Nabi berkata kepadanya, “Kalau begitu aku akan mendo’akanmu, tetapi bantulah aku atas dirimu dengan memperbanyak sujud”. Dialah Robi’ah bin Ka’ab Al-Aslamy rodhiyallahu ‘anhu.
Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim di Mustadroknya, ia berkata, “Ini adalah hadits shohih menurut syarat Muslim dan keduanya tidak mengeluarkannya”. Dari Robi’ah bin Ka’ab Al-Aslamy rodhiyallahu ‘anhu ia menuturkan, Rasulullah shollahu ‘alaihi wasallama memberiku sebidang tanah, dan ia juga memberi Abu Bakar sebidang tanah. Lalu kami berselisih pada sepokok kurma. Ia (Robi’ah) berkata, “Maka datanglah dunia”.
Maka Abu Bakar berkata, “Ini termasuk dalam batas tanahku”. Aku pun menyanggah, “Tidak .. akan tetapi ini termasuk dalam batas tanahku”. Lantas Abu Bakar melontarkan kepadaku kata-kata yang tidak aku sukai. Dan dia menyesali kata-katanya itu. Maka ia berkata kepadaku, “Hai Robi’ah, ucapkanlah kepadaku seperti apa yang telah aku katakana kepadamu sehingga menjadi qishosh”. Aku menjawab, “Tidak, demi Allah aku tidak akan mengatakan kepadamu kecuali yang baik”. Abu Bakar kembali berkata, “Demi Allah, engkau harus mengucapkan kepadaku seperti ucapanku kepadamu sehingga menjadi qishosh atau aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama”.
Aku berkata, “Tidak, aku tidak akan mengatakan kepadamu kecuali yang baik”.
Maka Abu Bakar tidak menerima pembagian tanah tersebut, dan ia mendatangi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Sementara aku (Robi’ah) mengikuti di belakangnya.
Sekelompok orang dari suku Aslam (suku Robi’ah) berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Bakar. Dia yang telah melontarkan kata-kata itu kepadamu, kenapa dia yang mengadukanmu kepada Rasulullah?”.
Aku berkata, “Tahukah kalian siapa ini? Ini adalah Abu Bakar .. teman Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama di dalam gua. Orang yang dituakan oleh kaum muslimin. Jangan sampai ia menoleh dan melihat kalian membelaku, sehingga dia marah lantas Rasulullah ikut marah karena kemarahanya, maka Allah akan marah pula karena kemarahan keduanya. Jika sampai itu terjadi celakalah Robi’ah. Pulanglah kalian!!”.
Robi’ah bergegas menyusul Abu Bakar.
Sesampai Abu Bakar di hadapan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama, ia menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Robi’ah.
Rasulullah berkata kepada Robi’ah, “Hai Robi’ah, ada apa antara kamu dengan Ash-Shiddiq?”.
Robi’ah menceritakan apa yang terjadi dan apa yang diucapkan oleh Abu Bakar kepadanya. Dan keengganannya membalas Abu Bakar dengan ucapan yang sama.
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama berkata kepadanya, “Baiklah, jangan katakan kepadanya seperti yang dikatakannya kepadamu, akan tetapi katakanlah ‘Semoga Allah mengampunimu hai Abu Bakar”.
Maka Abu Bakar pergi meninggalkan majelis tersebut sambil menangis …[1]
Subhanallah!
Kisah menakjubkan yang dinukilkah oleh kutubussunah kepada kita. Di dalamnya terkandung butir-butir pelajaran berharga bagi setiap muslim yang ingin meneladani generasi emas umat ini.
Entah dari mana kita mulai memetik pelajaran kisah ini. Apakah dari Rasulullah shollallahu yang adil dan bijaksana; bagaimana beliau mendengarkan masalah ini dari kedua belah pihak. Dan bagaimana beliau akhirnya membuat keduanya melewati polemik ini dengan baik.
Ataukah kita mulai dari jiwa besar Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu. Ataukah kita akan membicarakan akhlak Robi’ah dan penghormatannya terhadap Ash-Shiddiq??
Akar kisah ini adalah apa yang terjadi di antara dua orang sahabat yang mulia ini, dan pandangan mereka yang berbeda tentang sebatang korma yang menjadi pemicu perselisihan kecil antara keduanya.
Dalam kisah ini, Robi’ah menuturkan penyebab terjadinya perselisihan ini, ia mengatakan (Dan datanglah dunia …) maksudnya sebab utama adalah karena perhatian kepada dunia dan perhiasannya. Seolah-olah Robi’ah rodhiyallahu ‘anhu mengatakan kepada kita bahwa dunia dan perhiasaannya adalah penyebab banyak perselisihan di antara sesama muslim. Seolah-olah ia mengatakan kepada kita, kenapa harus berselisih, bertengkar, dan saling memutus hubungan persaudaraan hanya karena harta, tanah atau warisan dan urusan dunia lainnya?? Sampai kapan dunia ini menyibukkan kita dari tujuan dan cita-cita yang mulia?
Dengarkan firman Robb kita Subhanahu wa Ta’ala,
(وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيماً تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِراً)
Artinya, “Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Al-Kahfi : 45)
kemudian cobalah ulang lagi membaca dan merenungi penuturan Robi’ah (Lantas Abu Bakar melontarkan kepadaku kata-kata yang tidak aku sukai. Dan dia menyesali kata-katanya itu). Tidak diceritakan apa kalimat yang telah dilontarkan Abu Bakar kepada Robi’ah. Kita yakin tentu kalimat tersebut tak lebih dari sekedar ketidak sengajaan yang segara di sadari Abu Bakar dengan penyesalannya atas apa yang telah ia ucapkan. Ini merupakan ‘ibroh yang luar biasa. Seorang yang berjiwa besar sekalipun ia dihormati jika keliru segera kembali kepada yang benar. Kemudian tidak adanya nukilan ucapan Abu Bakar tersebut mengisyaratkan kepada kita bahwasanya Robi’ah sama sekali tidak memendam dendam. Ia ingin ucapan Abu Bakar tersebut dilupakan dan tidak diingat …
Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu meminta Robi’ah rodhiyallahu ‘anhu membalas ucapannya sebagai qishosh atas perbuatannya. Kedudukannya di sisi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama tidak membuatnya menghinakan dan merendahkan seseorangpun dari kaum muslimin bahkan dia tidak ingin menyakiti seseorangpun sekalipun itu hanya dengan ucapan sepele.
Dengan sikap yang mulia ini Ash-Shiddiq mengajarkan kepada kita sifat adil, tawadhu dan tidak sombong.
Di sisi lain juga tergambar jiwa besar Robi’ah. Ia tidak ingin membalas kalimat yang tidak disukainya dengan kalimat yang semisal. Bahkan ia menegaskan (Tidak ..demi Allah aku tidak akan katakan kepadamu kecuali yang baik). Ini peringatan bagi kita agar kita tidak membalas keburukan dengan kebaikan. Jangan biarkan syetan mendapatkan celah untuk merusak mu’amalahmu bersama saudara-saudara dan sahabat-sahabatmu. Jangan ucapkan dengan lisanmu kecuali yang ucapan yang baik.
“Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan”. (Al-Mukminun : 96)
Ini juga menjadi ‘ibroh yang berharga bagi orang-orang yang menjadikan lisannya laksana pedang untuk mencaci-maki, mencela, mengolok-olok, memakan bangkai saudaranya (ghibah), atau berdusta.
Jangan .. jangan lakukan itu saudaraku!!
Kemudian ia memberikan kepada kita pelajaran lain yaitu ’sabar’. Ia tidak membalas ucapan Abu Bakar .. sama sekali tidak.
Bukankah ini pelajaran bagi kita semua, agar kita mengendalikan nafsu dan emosi kita. Sangat disayangkan sebagian orang membalas satu kata dengan dua kali lipat atau bahkan berlebih-lebihan. Masalah sepele saja memantik emosinya, sehingga menggelegak lalu mencela, memaki dan melaknat. Lupakah ia wasiat Qudwah-nya shollallahu ‘alaihi wa sallama ketika mewasiatkan salah seorang sahabatnya, “Jangan marah”.[2]
Kemudian Abu Bakar yang menyesali perkataannya, ketika Robi’ah tidak mau membalasnya ia pergi menemui Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama untuk meminta petunjuk dalam masalahnya itu. Ini mengandung faedah yang agung yaitu meminta bantuan orang yang lain yang bisa dipercaya dan amanah untuk menjadi penengah dan membantu mendamaikan.
Ketika Robi’ah mengikutinya. Di jalan beberapa orang kaum Robi’ah berusaha menghalanginya mengikuti Abu Bakar. Seolah-olah mereka mengatakan kepadanya (bukankah Abu Bakar yang salah kepadamu, dan engkau yang benar? Kenapa engkau mengikutinya?) dengarkan jawaban yang sangat dalam maknanya dari Robi’ah (Tahukah kalian siapa ini? Ini adalah Abu Bakar, ini adalah teman (Rasulullah) di dalam gua .. orang yang dituakan oleh kaum muslimin!! Jangan sampai ia melihat kalian membelaku, lalu dia marah, lantas Rasulullah marah karena kemarahannya maka Allah pun marah karena kemarahan keduanya sehingga binasalah Robi’ah).
Sungguh akhlak yang tinggi baik perkataan maupun perbuatannya. Budi pekerti nan luhur dalam bermu’amalah, menghormati dan memuliakan.
Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua bagaimana memposisikan orang lain sesuai dengan kedudukannya. Semoga Allah meridhoimu hai Robi’ah ketika engkau mengetahui keutamaan orang yang memiliki kedudukan. Semoga Allah meridhoimu ketika engkau menghormati Abu Bakar dan memuliakannya. Semoga Allah meridoimu ketika engkau menimbang permasalahaan dengan timbangan syara’.
Lihatlah …Robi’ah mengetahui kedudukan Abu Bakar di sisi Rasulullah, maka dia takut kemarahannya karena dia khawatir itu akan menyebabkan Rasulullah marah lalu menyebabkan Allah juga marah. Ini yang tidak terpikirkan oleh kaumnya yang menimbang masalah itu dengan emosi mereka semata. Dalam masalah ini pelajaran berharga bagi umat, bahwasanya emosi dan perasaan yang tidak dikontrol dengan batasan-batasan syara’ menyebabkan hasil-hasil yang tidak terpuji.
Lihatlah wahai saudaraku ..apa yang terjadi ditengah umat islam. Munculnya pemikiran-pemikiran dan perbuatan-perbuatan yang digerakkan oleh emosi dan semangat yang tidak mengikuti rambu-rambu syara’ ..sehingga menimbulkan kerusakan di muka bumi ..meledakkan, menghancurkan dan mengkafirkan.
Saudaraku kaum muslimin … ilmu syar’I yang dibangun di atas pondasi yang shohih adalah satu-satunya jalan menggapai keselamatan umat dan kemenangannya. Kita adalah umat yang memiliki manhaj dan azas yang jelas. Pilar-pilarnya jelas ..takkan ada yang menggoyahkan baik hawa yang diikuti atau emosi yg tak terkendali atau semangat yg kosong dari ilmu syar’I, selama kita berpegang teguh dengan dasar-dasar yang shohih tadi.
Inilah yang terjadi di antara dua orang sahabat sebelum keduanya sampai kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Adapun yang terjadi dihadapan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Keduanya bertemu dihadapan Rasulullah. Dan beliau mendengarkan dari keduanya dengan seksama. Beginilah Rasulullah dengan para sahabatnya rodhiyallahu anhum; mendengarkan mereka, duduk bersama mereka. Mereka meminta pendapatnya lalu beliau memberikan petunjuk dan saran. Mereka bertanya beliau menjawab.
Dalam kisah ini, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama mendengarkan penuturan keduanya. Dia tidak hanya mendengarkan sepihak. Ini bentuk keadilan beliau. Setelah beliau mendengar keduanya dan setelah jelas semua permasalahan, ia menunjukkan kepada Robi’ah yang lebih baik dari membalas ucapan Abu Bakar, dan beliau mendukungnya untuk tidak membalas bahkan beliau berkata kepadanya, “Katakan kepadanya (semoga Allah mengampunimu hai Abu Bakar)”.
Robi’ah pun mengucapkannya ..namun jiwa besar Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu yang takut kepada Allah tidak sanggup menerimanya sehingga air matanya mendahului kata-katanya. Dan ia pun pergi dengan menangis semoga Allah meridhoinya.
Ya Allah .. Alangkah indah dan mengagumkannya kisah ini, penuh dengan akhlak yang mulia, budi pekerti nan tinggi, saling memaafkan dan berlapang dada. Allah Ta’ala berfirman,
فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ (الشورى: من الآية40(
“Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim”.
Semoga Allah memberikan kekuatan dan keteguhan kepada kita untuk meneladani Salafush Sholeh .. Amin.
[1] Kisah ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad (4/58-59) dan Ath-Thobroni di Al-Mu’jamul Kabir (5/52-530 dan Ibnu Asakir di At-Tarikh (9/583) dan isnadnya dihasankan oleh Syeikh Al-Albany di As-Silsilah Ash-Shohihah (no. 3145).
[2] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu.
JADILAH KUNCI KEBAIKAN
http://www.youtube.com/watch?v=gFaCjEjwsro
عن أنس بن مالك قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” إن من الناس مفاتيح للخير مغاليق للشر و إن من الناس مفاتيح
للشر مغاليق للخير ، فطوبى لمن جعل الله مفاتيح الخير على يديه ، و ويل لمن جعل الله مفاتيح الشر على يديه “
Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, ‘Sesungguhnya diantara manusai ada yang menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan. Dan diantara manusia ada pula yang menjadi kunci-kunci pembuka keburukan dan penutup kebaikan. Maka beruntunglah orang yang Allah jadikan kunci-kunci kebaikan di tangannya dan celakalah bagi orang-orang yang Allah jadikan kunci-kunci keburukan di tangannya”.[1]
Barangsiapa yang ingin menjadi kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan , hendaklah ia memenuhi hal berikut ini :
1. Ikhlas untuk Allah dalam perkataan dan perbuatan. Karena ikhlas adalah asas segala kebaikan dan mata air segala keutamaan.
2. Senantiasa berdo’a kepada Allah memohon bimbingan untuk menjadi kunci kebaikan. Karena do’a adalah kunci segala kebaikan. Allah tidak akan menolak hamba-Nya yang berdo’a kepada-Nya serta tidak akan menyia-nyiakan seorang mukmin yang menyeru-Nya.
3. Bersemangat menuntut dan mendapatkan ilmu. Karena ilmu mengajak kepada keutamaan dan akhlak yang mulia, serta penghalang dari akhlak tercela dan perbuatan keji.
4. Menjalakan ‘ibadatullah terutama yang fardhu, dan khususnya lagi sholat. Karena ia mencegah dari perbuatan keji dan munkar.
5. Menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, serta menjauh dari akhlak tercela.
6. Berteman dengan orang-orang baik dan sholeh. Karena duduk bersama orang-orang yang sholeh dinaungi malaikat dan diliputi rahmat. Serta menjauhkan diri dari duduk di majelis orang-orang yang jahat dan tidak baik, sesungguhnya itu adalah tempat singgah setan.
7. Menasehati manusia ketika bergaul dan berbaur dengan mereka, dengan cara menyibukkan mereka dengan kebaikan dan memalingkan mereka dari keburukan.
8. Mengingat hari berbangkit dan sa’at berdiri di hadapan Robbul ‘Alamiin. Ketika Ia membalas orang yang baik dengan kebaikan dan orang yang jahat dengan hukuman. (Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.[2])
9. Dan pilar penyanggah semua itu adalah keinginan seorang hamba kepada kebaikan serta memberi manfaat kepada orang lain. Apabila keinginan seseorang kuat, niat dan tekad sudah bulat serta memohon pertolongan kepada Allah dalam melakukan itu, lalu melakukannya sesuai jalurnya. Maka dengan izin Allah akan menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan.[3]
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita sebagai kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan. Amiin.
http://www.youtube.com/watch?v=JIRdHZubIZU
عن أبي واقد الليثي - رضي الله عنه - قال : خرجنا مع رسول اللهr إلى حنين ونحن حدثاء عهد بكفر ، وللمشركين سدرة يعكفون عندها وينوطون بها أسلحتهم يقال لها ذات أنواط ، فمررنا بسدرة ، فقلنا يا رسول الله اجعل لنا ذات أنواط ، كما لهم ذات أنواط فقال رسول اللهr : « الله أكبر إنها السنن قلتم والذي نفسي بيده ، كما قالت بنو إسرائيل لموسى : ] اجعل لنا إلهاً كما لهم آلهة قال إنكم قوم تجهلون [ لتركبن سنن من كان قبلكم »
Artinya : Dari Abu Waqid Al-Laitsi semoga Allah meridhoinya ia berkata, “Kami pergi bersama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama menuju Hunain. Dan ketika itu kami baru meninggalkan kekufuran. Orang-orang musyrikin mempunyai Sidroh (sejenis pohon) , mereka beri’tikaf di dekatnya dan menggantungkan senjata-senjata mereka padanya. Pohon itu disebut Dzaatu Anwath. Maka kami melewati sebuah pohon sidroh. Kami pun berkata, ‘Ya Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwath seperti yang mereka miliki’. Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, ‘Allahu Akbar .. sesungguhnya itu adalah jalan-jalan (orang-orang sebelum kalian). Kalian telah mengatakan demi (Allah) yang jiwaku berada di tangan-Nya sebagaimana ucapan Banu Israil kepada Musa (jadikanlah untuk kami tuhan-tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan. Ia (Musa) berkata : sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang bodoh).
Sungguh, kalian pasti akan mengikuti jejak-jejak orang-orang yang seblum kalian”.
(Dikeluarkan oleh Ahmad 5/228, At-Tirmidzi 4/475 kitab Al-Fitan no.2180, Abdurrozaq 11/369 no. 20763, Ibnu Jarir 9/45-46, Ibnul Mundzir di Ad-Durrul Mantsur 3/533, Abu Hatim 3/275 no. 3290-3294 dan Ath-Thobroni)
MAKNA HADITS
Dalam perang Hunain, ikut serta dalam pasukan Rasulullah shollallahu alaihi wa sallama orang-orang yang baru masuk islam. Kaki mereka belum kokoh di atas islam, dan belum paham dakwah islamiyah serta akidah-akidah dan landasan-landasanya, karena mereka belum lama meninggalkan jahiliyah dan syirik. Ketika mereka melewati orang-orang musyrikin yang sedang I’tikaf di di dekat sebuah pohon mengharapkan berkah dan mengagungkan pohon itu. Tatkala orang-orang yang baru masuk islam itu melihat mereka melakukan itu, mereka meminta Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama membuatkan untuk mereka pohon tempat mereka menggantungkan senjata-senjata mereka dengan tujuan mengharapkan berkah dari pohon itu - bukannya mengibadatinya - mereka mengira bahwa islam mengizinkan tabarruk (mengharapkan berkah) seperti ini, dan bahwasanya dengan itu mereka dapat meraih kemenangan atas musuh-musuh mereka.
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama terkejut mendengar permintaan yang aneh ini. Maka beliau mengucapkan kalimat yang agung, yang seharusnya menjadi pelajaran bagi umat sampai hari kiamat, beliau berkata (Allahu Akbar .. sesungguhnya itu adalah jalan-jalan (orang-orang sebelum kalian). Kalian telah mengatakan demi (Allah) yang jiwaku berada di tangan-Nya sebagaimana ucapan Banu Israil kepada Musa (jadikanlah untuk kami tuhan-tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan. Ia (Musa) berkata : sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang bodoh).Sungguh, kalian pasti akan mengikuti jejak-jejak orang-orang yang seblum kalian.
Kaum muslimin teramat membutuhkan untuk memahami pelajaran ini. Begitu juga para ulama seyogyanya mereka menyuarakan kalimat yang kuat ini kepada orang-orang yang mengharap berkah dari makhluk yang hidup maupun yang sudah mati, pohon-pohon dan bebatuan. Karena mereka mengira itu dari islam. Dan mereka dibohongi oleh orang-orang yang tidak takut kepada Allah serta tidak mengharapkan Allah dan hari akhir dari para penyembah harta dan kedudukan. Mereka memanfaatkan emosi orang-orang bodoh dan awam. Sehingga mereka memegang kebatilan dan mendorong mereka untuk memerangi kebenaran dan tauhid.
Kesimpulan Hadits :
1. Larangan menyerupai orang-orang jahiliyah.
2. Bahwasanya perbuatan Bani Israil yang dicela, juga tercela bagi umat ini jika melakukannya.
3. Di dalam hadits ini ada isyarat kepada kaedah (Saddudz Dzari’ah) atau menutup pintu keburukan.
4. Di dalam hadits ini juga terdapat mu’jizat Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama, karena apa yang disabdakannya terbukti.
5. Wajib takut terhadap kesyirikan. Dan bahwasanya seseorangitu bisa jadi menganggap baik sesuatu, dan ia mengiranya itu bisa mendekatkan dia kepada Allah, padahal malah menjauhkannya dari rahmat Allah, dan mendekatkannya kepada kemurkaan-Nya.
(diringkas dari : Mudzakkiroh Al-Hadits An-Nabawy fil Akidah wal It-Tiba’ karangan Syaikh Robi bin Hadi Al-Madkholi, halaman 17-19).
Kepada Istriku
Petang ini aku tidak bisa segera pulang. Banyak tugas-tugas yang belum tuntas harus digegas. Petang menjelang, sms-mu datang, menanyakan kapan pulang?
Hmm …mungkin aku baru bisa pulang malam. Mungkin nanti anak-anak sudah tidur, si kecil yang lucu hari ini tidak bergantung dikakiku ketika pulang. Karena ia telah lelap dalam tidurnya..jpeg)
Istriku …
Aku tahu, betapa berat tugas dan tanggung jawabmu dirumah. Pekerjaanmu padat dan berat.
Memasak
Mencuci
Menyapu
Mengurus urusan rumahtangga.
Letih dan lelah demi semua.
Menyusui dan mendidik anak-anak.
Menjaga amanah dan kesetiaan ketika suami tidak ada.
Tidak diperintahkan sholat jum’at.
Tidak pula diwajibkan sholat jama’ah ke mesjid.
Tidak wajib atasnya jihad dengan senjata.
Namun begitu istriku, bergembiralah karena engkau tetap mendapatkan pahala seperti kaum pria.
Kok bisa?
Dengarkan jawabannya dari seorang utusan wanita “Asma’ binti Yazid Al-Anshoriyyah yang mendatangi Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama ketika beliau sedang duduk bersama sahabat-sahabat.
Asma binti Yazid Al-Ashoriyyah, “Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, sesungguhnya aku adalah utusan para wanita kepadamu, dan aku tahu - jiwaku sebagai tebusanmu - bahwasanya tidak seorangpun dari wanita baik di timur ataupun di barat yang mendengar kepergianku untuk menemui ini ataupun tidak mendengarnya melainkan ia sependapat denganku.
Sesungguhnya Allah mengutusmu dengan kebenaran kepada laki-laki dan wanita. Maka kami beriman kepadamu dan kepada iIlah-mu yang telah mengutus.
Dan sesungguhnya kami para wanita terbatas (geraknya); menjadi penjaga rumah-rumah kalian, tempat kalian menunaikan syahwat kalian dan yang mengandung anak-anak kalian.
Sementara kalian para laki-laki dilebihkan atas kami dengan sholat jum’at, jama’ah, menjenguk orang sakit, menghadiri jenazah, menunaikan haji berkali-kali, dan yang lebih baik dari itu berjihad di jalan Allah. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian apabila ia keluar haji atau umroh atau berjihad, kami yang menjaga harta kalian, menenunkan pakaian kalian, dan kami pula yang mendidik anak-anak kalian. Maka apakah kami mendapatkan pahala seperti kalian wahai Rasulullah?
Maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama menoleh kepada para sahabatnya, kemudian beliau berkata, “Apakah kalian pernah mendengar perkataan wanita yang lebih baik dari pertanyaannya dalam urusan agamanya ini? Mereka menjawab, “WaHai Rasulullah, kami tidak mengira bahwa seorang wanita bisa paham seperti ini.
Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama menoleh kepadanya kemudian berkata kepadanya, “Pulanglah wahai wanita dan beritahukanlah kepada orang-orang wanita-wanita dibelakangmu bahwasanya baiknya pengabdian salah seorang dari kalian kepada suaminya dan mengharapkan ridhonya, serta mengikuti keinginannya menandingi itu semua”.
Maka wanita itu pulang seraya bertahlil, bertakbir dengan gembira”.(Diriwayatkan oleh Al-Baihaqy dalam Syu’abil Iman).
Istriku …
Jika seorang wanita memahami ibadah dengan sempit, hanya sebatas ruku’ dan sujud saja, ia akan kehilangan pahala yang besar, karena ia akan menganggap pekerjaan dirumah, berkhidmat kepada suami, bergaul dengannya dengan baik, mendidik anak-anak semua itu tidak termasuk ibadah. Ini jelas salah dalam memahami ibadah.
Ibadah sebagaimana dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah suatu penamaan untuk setiap sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah dari perkataan dan perbuatan yang batin maupun zhohir.
Sholat, zakat, puasa, haji, berkata jujur, menunaikan amanah, berbakti kepada orangtua, shilaturrahim, menepati janji, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, jihad melawan orang kafir dan munafiqin, berbuat baik kepada tetangga anak yatim orang miskin ibnus sabil dan hewan, berdo’a, berzikir, membaca Al Quran dan semisalnya termasuk ibadah. Begitu juga mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah, bertaubat kepada-Nya dan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya semata, bersabar terhadap keputusan-Nya, mensyukuri nikmat-Nya dan ridho terhadap qodho-Nya, tawakkal kepada-Nya, mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya semua itu termasuk ibadah kepada Allah.
Jadi ibadatullah adalah tujuan yang dicintai dan diridhoi-Nya yang karenanya Ia menciptakan makhluk sebagaimana firman-Nya,
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka mengibadati-Ku”.
Engkau istriku .. senantiasa dalam ibadah ketika berkhidmat kepada suamimu dan anak-anakmu selama engkau mengharapkan ridhonya dan berbuat baik dalam bergaul dengannya.
Selamat untukmu istriku!!
Engkau berhak mendapatkan pahala di dalam rumahmu jika :
- Ikhlas dan mengharapkan pahala dari Allah.
- Memperbaiki niat.
Terakhir .. semoga Allah senantiasa menjagamu dan menjaga rumah tangga kita dalam naungan ridho Illahi dan cinta-Nya, amin.
Anakku tercinta … ketika surat ini sampai kepadamu berarti ibu telah meninggalkan kehidupan ini, dan mungkin saja kamu tidak akan membaca suratku ini selama-lamanya, oleh karena itu ibu merasa merasa perlu menyebar-luaskannya sehingga orang selainmu ikut membacanya, dengan demikian setiap anak yang durhaka adalah anakku …
Wahai anakku, sesungguhnya ibu merasa akan mati dalam waktu dekat, dokter telah memberitahukan bahwa kondisi kesehatan ibu kian melemah … dan keengganan ibu untuk mengkonsumsi obat membuat ibu membutuhkan darah tambahan dalam jumlah besar … ketika itu ibu berusaha untuk bersikeras agar tidak makan obat … akan tetapi kehendak dokter memaksaku untuk menyetujuinya karena ibu adalah seorang wanita yang mengimani bahwasanya darah-darah tersebut tidak akan mengembalikan sisa-sisa kehidupan ke-hati dan ruhku … karena pada detik-detik ini ibu melihat sayap-sayap malaikat maut didalam kamarku.
Wahai anakku, janganlah mengira, bahwa ibu dengan kata-kata ini berusaha untuk menarik simpatimu agar datang kepadaku. Tidak, bukan ini tujuan dan maksudku, karena ibu telah wasiatkan kepada pembawa surat ini agar tidak menyerahkannya kepadamu kecuali setelah ibu meninggalkan kehidupan. Karena ibu tahu bahwasanya selama ibu masih hidup kamu tidak akan membacanya, akan tetapi mungkin kamu akan membacanya setelah kematianku, karena kamu tahu bahwa dengan membacanya setelah kematianku tidak akan memberikan tanggung jawab apa-apa .. akan tetapi ini bukan berarti ibu tidak berangan-angan untuk melihatmu terakhir kalinya sebelum ibu mati, bukan saja karena ibu merindukanmu … akan tetapi juga karena lain-lain hal …
Diantaranya :
Pertama : ibu tidak ingin melewatkan sa’at-sa’at terakhir umur ibu sendirian, hanya ditemani oleh ketakutan-ketakutan dan pikiran-pikiran. Ibu berangan-angan seperti seorang muslim lainnya, pada sa’at-sa’at seperti itu mendapatkan orang yang menghormati ke-manusiaan-ku dan memperhatikan urusanku, mengarahkan wajahku kekiblat, dan mentalkinkanku dua kalimat syahadat serta mendo’akan rahmat untukku … apakah berlebihan apabila ibu berangan mendapatkan hak ibu yang islam sendiri telah menjaminnya untukku??
Sesungguhnya kesendirian yang ibu perhatikan pada kebanyakan wanita sepertiku mendorongku mengangankan apa yang ibu angankan …
Sesungguhnya kematian ditempat ini tidak ada harganya .. karena si sakit tidak lebih dari tempat tidur yang kosong pada hari pertama untuk diisi pada hari berikutnya oleh pesakitan lain, menanti gilirannya diatas papan penantian! Karenanya ibu tidak terlalu bersedih mendengar kematian salah seorang pasien. Kesedihanku yang paling besar adalah ketika ibu tahu bahwa dia, disa’at-sa’at kematiannya sendirian, tidak ada orang disisinya yang mentalkinkannya .. tidak ada orang yang dicintainya yang meneteskan air mata sedih karena kapergiannya .. selain dari air mata teman-teman sesama pasien yang sama-sama meniti jalan kesedihan …
Kedua : sesungguhnya ibu ingin mema’afkanmu .. dan ini tidak bisa ibu lakukan apabila kamu tidak datang kepadaku dengan air mata penyesalan diwajahmu seraya kamu berkata, “Ma’afkan saya Ibu” … tahukah kamu, kalau kamu melakukan ini ibu akan melupakan semua masa lalumu, dan ibu akan berdo’a kepada Allah agar Ia mengampuni segala kesalahanmu terhadapku. Ibu akan memohon dengan merendahkan diri kepada-Nya agar akhir hayatmu tidak seperti akhirku … akan tetapi ibu yakin bahwa kamu tidak akan melakukannya … dan kamu tidak akan datang … oleh karena itu janganlah menanti ma’af dariku wahai anakku … karena ibu, walaupun mema’afkanmu .. ibu tidak akan menjamin bahwa kamu akan selamat dari azab Allah yang tidak pernah lupa dan tidak tidur …
Ibumu yang terluka
http://www.youtube.com/watch?v=HXFbYnG4opo
Wahai jiwa, yakinlah …
Sekalipun kematian hari ini melangkahimu menjemput yang lain
Sejatinya ia dalam perjalanan menujumu.
Hidup ini betapapun panjang dan indahnya, pasti berakhir jua.
Tak lebih dari detik ke menit, jam ke hari, minggu ke bulan lalu berganti tahun
Maka engkau akan sendiri tanpa teman, harta dan kekasih.
Ingatlah kematian hari ini untuk hidup kemudian hari
Tangisilah dosa hari ini untuk bahagia disurga nanti.
Bandingkanlah antara kehidupan yang bahagia di jalan Allah dengan kehidupan yang jauh dari Manhaj Allah.
Bandingkanlah antara orang-orang yang sholeh dan istiqomah dengan orang-orang yang bingung lagi tersesat, penuh keraguan, kebimbangan dan keresahan.

http://www.youtube.com
/watch?v=lHlspm4TFrY http://www.youtube.com/watch?v=nGnt6AKFuO0
http://www.youtube.com/watch?v=fvjYd7lBpCc
"Saling berwasiatlah kalian tentang wanita dengan baik, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Jika engkau berusaha meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya, jika dibiarkan maka ia akan tetap bengkok. Maka nasihatilah para wanita dengan baik." (Muttafaq �alaih)
Hadits yang telah sering kita dengar itu adalah hadits shahih dari Abu Hurairah z. Namun, sebagian kita mungkin tidak paham dengan makna “saling berwasiatlah kalian tentang wanita dengan baik, karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok”, dan maksud dari “tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas”.
Berikut penjelasan Syekh Ibnu Baz v. Beliau v berkata, Ini hadits shahih yang diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani (Al-Bukhari dan Muslim) dalam masing-masing kitab shahih mereka, dari Nabi n dari hadits Abu Hurairah z, bahwa Nabi n bersabda,
"Saling berwasiatlah kalian tentang wanita dengan baik, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Jika engkau berusaha meluruskannya maka engkau akan mematahkannya, jika dibiarkan maka ia akan tetap bengkok. Maka nasihatilah para wanita dengan baik" (Muttafaq �alaih)
Ini adalah perintah untuk para suami, para ayah dan lainnya untuk menasihati kaum wanita dengan baik, berbuat baik terhadap mereka, tidak menzhalimi mereka, dan senantiasa memberikan hak-hak mereka serta mengarahkan mereka kepada kebaikan. Ini yang diwajibkan atas semua orang berdasarkan sabda Nabi n, “Saling berwasiatlah kalian tentang wanita dengan baik.” Hal ini jangan sampai terhalangi oleh perilaku mereka yang adakalanya bersikap buruk terhadap suaminya dan kerabatnya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, karena para wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, sebagaimana dikatakan oleh Nabi n, bahwa tulang rusuk yang paling mudah bengkok adalah yang paling atas. Yang paling atas itu, adalah yang terletak setelah pangkal rusuk, itulah tulang rusuk yang paling mudah bengkok. Ini jelas. Hal itu sangat berpengaruh dalam sikap dan perilaku wanita, yang penuh
dengan kebengkokan dan kekurangan. Karena itulah disebutkan dalam hadits lain dalam Ash-Shahihain,
“Aku tidak melihat orang-orang yang kurang akal dan kurang agamanya, yang lebih bisa menghilangkan akal laki-laki yang teguh, daripada salah seorang di antara kalian (para wanita).” (Mutafaq �alaih)
Maksudnya, bahwa ini penetapan Nabi n yang disebutkan dalam Ash-Shahihain dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri z. Makna “kurang akal” dalam sabda Nabi n adalah bahwa persaksian dua wanita sebanding dengan persaksian seorang laki-laki. Sedang makna “kurang agama” dalam sabda beliau adalah bahwa wanita itu kadang selama beberapa hari dan beberapa malam tidak shalat, yaitu ketika sedang haid dan juga saat nifas. Kekurangan ini merupakan ketetapan Allah pada kaum wanita, sehingga wanita tidak berdosa dalam hal ini. Maka hendaknya wanita mengakui hal ini sesuai dengan petunjuk Nabi n walaupun ia berilmu dan bertakwa, karena Nabi n tidak berbicara berdasarkan hawa nafsunya, tapi merupakan wahyu ya
ng diwahyukan Allah kepadanya, lalu beliau sampaikan kepada umatnya, sebagaimana firman Allah l,
“Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 1 -4)
Majmu’ Fatawa Wa Maqalat Mutanawwi’ah, Juz 5, Hal. 300- 301, Syaikh Ibnu Baz.
Kesimpulan:
Sabda Nabi n, “Saling berwasiatlah kalian tentang wanita dengan baik,” maksudnya adalah perintah untuk para suami, para ayah dan lainnya, untuk menasihati kaum wanita dengan baik, berbuat baik terhadap mereka, tidak menzhalimi mereka, dan senantiasa memberikan hak-hak mereka, serta mengarahkan mereka kepada kebaikan Makna dari “tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas”, bahwa perilaku wanita adakalanya bersikap buruk
terhadap suami dan kerabatnya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, karena para wanita itu diciptakan dari tulang rusuk paling atas, yang paling mudah bengkok. Yang paling atas itu, adalah yang terletak setelah pangkal rusuk, itulah tulang rusuk yang paling mudah bengkok. Hal itu sangat berpengaruh dalam sikap dan perilaku wanita, yang penuh dengan kebengkokan dan kekurangan.
Semoga Allah memudahkan kita untuk bisa bersabar dalam menghadapi istri kita dengan segala kekurangan yang sudah ditetapkan
oleh Allah l.
Wallahu a’lam bis shawab.
http://www.youtube.com/watch?v=mgp-SQwFm50
Penyusun: Ummu Uwais dan Ummu Aiman
Muraja’ah: Ustadz Nur Kholis Kurdian, Lc.
Wahai saudariku muslimah, wanita adalah kunci kebaikan suatu umat. Wanita bagaikan batu bata, ia adalah pembangun generasi manusia. Maka jika kaum wanita baik, maka baiklah suatu generasi. Namun sebaliknya, jika kaum wanita itu rusak, maka akan rusak pulalah generasi tersebut.
Maka, engkaulah wahai saudariku… engkaulah pengemban amanah pembangun generasi umat ini. Jadilah engkau wanita muslimah yang sejati, wanita yang senantiasa menjaga kehormatannya. Yang menjunjung tinggi hak Rabb-nya. Yang setia menjalankan sunnah rasul-Nya.
Wanita Berbeda Dengan Laki-Laki
Allah berfirman,
وَمَاخَلَقْتُ الجِنَّ وَ الإِنْسَ إِلاَّلِيَعْبُدُوْنِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Qs. Adz-Dzaariyat: 56)
Allah telah menciptakan manusia dalam jenis perempuan dan laki-laki dengan memiliki kewajiban yang sama, yaitu untuk beribadah kepada Allah. Dia telah menempatkan pria dan wanita pada kedudukannya masing-masing sesuai dengan kodratnya. Dalam beberapa hal, sebagian mereka tidak boleh dan tidak bisa menggantikan yang lain.
Keduanya memiliki kedudukan yang sama. Dalam peribadatan, secara umum mereka memiliki hak dan kewajiban yang tidak berbeda. Hanya dalam masalah-masalah tertentu, memang ada perbedaan. Hal itu Allah sesuaikan dengan naluri, tabiat, dan kondisi masing-masing.
Allah mentakdirkan bahwa laki-laki tidaklah sama dengan perempuan, baik dalam bentuk penciptaan, postur tubuh, dan susunan anggota badan.
Allah berfirman,
وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأنْثَى
“Dan laki-laki itu tidaklah sama dengan perempuan.” (Qs. Ali Imran: 36)
Karena perbedaan ini, maka Allah mengkhususkan beberapa hukum syar’i bagi kaum laki-laki dan perempuan sesuai dengan bentuk dasar, keahlian dan kemampuannya masing-masing. Allah memberikan hukum-hukum yang menjadi keistimewaan bagi kaum laki-laki, diantaranya bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan, kenabian dan kerasulan hanya diberikan kepada kaum laki-laki dan bukan kepada perempuan, laki-laki mendapatkan dua kali lipat dari bagian perempuan dalam hal warisan, dan lain-lain. Sebaliknya, Islam telah memuliakan wanita dengan memerintahkan wanita untuk tetap tinggal dalam rumahnya, serta merawat suami dan anak-anaknya.
Mujahid meriwayatkan bahwa Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata: “Wahai Rasulullah, mengapa kaum laki-laki bisa pergi ke medan perang sedang kami tidak, dan kamipun hanya mendapatkan warisan setengah bagian laki-laki?” Maka turunlah ayat yang artinya, “Dan janganlah kamu iri terhadap apa yang dikaruniakan Allah…” (Qs. An-Nisaa’: 32)” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari, Imam Ahmad, Al-Hakim, dan lain sebagainya)
Saudariku, maka hendaklah kita mengimani apa yang Allah takdirkan, bahwa laki-laki dan perempuan berbeda. Yakinlah, di balik perbedaan ini ada hikmah yang sangat besar, karena Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Mari Menjaga Kehormatan Dengan Berhijab
Berhijab merupakan kewajiban yang harus ditunaikan bagi setiap wanita muslimah. Hijab merupakan salah satu bentuk pemuliaan terhadap wanita yang telah disyariatkan dalam Islam. Dalam mengenakan hijab syar’i haruslah menutupi seluruh tubuh dan menutupi seluruh perhiasan yang dikenakan dari pandangan laki-laki yang bukan mahram. Hal ini sebagaimana tercantum dalam firman Allah Ta’ala:
وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ
“dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya.” (Qs. An-Nuur: 31)
Mengenakan hijab syar’i merupakan amalan yang dilakukan oleh wanita-wanita mukminah dari kalangan sahabiah dan generasi setelahnya. Merupakan keharusan bagi wanita-wanita sekarang yang menisbatkan diri pada islam untuk meneladani jejak wanita-wanita muslimah pendahulu meraka dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya adalah dalam masalah berhijab. Hijab merupakan cermin kesucian diri, kemuliaan yang berhiaskan malu dan kecemburuan (ghirah). Ironisnya, banyak wanita sekarang yang menisbatkan diri pada islam keluar di jalan-jalan dan tempat-tempat umum tanpa mengenakan hijab, tetapi malah bersolek dan bertabaruj tanpa rasa malu. Sampai-sampai sulit dibedakan mana wanita muslim dan mana wanita kafir, sekalipun ada yang memakai kerudung, akan tetapi kerudung tersebut tak ubahnya hanyalah seperti hiasan penutup kepala.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
“Semoga Alloh merahmati para wanita generasi pertama yang berhijrah, ketika turun ayat:
“dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya,” (Qs. An-Nuur: 31)
“Maka mereka segera merobek kain panjang/baju mantel mereka untuk kemudian menggunakannya sebagai khimar penutup tubuh bagian atas mereka.”
Subhanallah… jauh sekali keadaan wanita di zaman ini dengan keadaan wanita zaman sahabiah.
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa hijab merupakan kewajiban atas diri seorang muslimah dan meninggalkannya menyebabkan dosa yang membinasakan dan mendatangkan dosa-dosa yang lainnya. Sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya hendaknya wanita mukminah bersegera melaksanakan perintah Alloh yang satu ini.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan tidaklah patut bagi mukmin dan tidak (pula) bagi mukminah, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, kemudian mereka mempunyai pilihan (yang lain) tentang urusan mereka, dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya. Maka sungguhlah dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Qs. Al-Ahzab: 36)
Mengenakan hijab syar’i mempunyai banyak keutamaan, diantaranya:
- Menjaga kehormatan.
- Membersihkan hati.
- Melahirkan akhlaq yang mulia.
- Tanda kesucian.
- Menjaga rasa malu.
- Mencegah dari keinginan dan hasrat syaithoniah.
- Menjaga ghirah.
- Dan lain-lain. Adapun untuk rincian tentang hijab dapat dilihat pada artikel-artikel sebelumnya.
Kembalilah ke Rumahmu
وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ
“Dan hendaklah kamu tetap berada di rumahmu.” (Qs. Al-Ahzab: 33)
Islam telah memuliakan kaum wanita dengan memerintahkan mereka untuk tetap tinggal dalam rumahnya. Ini merupakan ketentuan yang telah Allah syari’atkan. Oleh karena itu, Allah membebaskan kaum wanita dari beberapa kewajiban syari’at yang di lain sisi diwajibkan kepada kaum laki-laki, diantaranya:
- Digugurkan baginya kewajiban menghadiri shalat jum’at dan shalat jama’ah.
- Kewajiban menunaikan ibadah haji bagi wanita disyaratkan dengan mahram yang menyertainya.
- Wanita tidak berkewajiban berjihad.
Sedangkan keluarnya mereka dari rumah adalah rukhshah (keringanan) yang diberikan karena kebutuhan dan darurat. Maka, hendaklah wanita muslimah tidak sering-sering keluar rumah, apalagi dengan berhias atau memakai wangi-wangian sebagaimana halnya kebiasaan wanita-wanita jahiliyah.
Perintah untuk tetap berada di rumah merupakan hijab bagi kaum wanita dari menampakkan diri di hadapan laki-laki yang bukan mahram dan dari ihtilat. Apabila wanita menampakkan diri di hadapan laki-laki yang bukan mahram maka ia wajib mengenakan hijab yang menutupi seluruh tubuh dan perhiasannya. Dengan menjaga hal ini, maka akan terwujud berbagai tujuan syari’at, yaitu:
- Terpeliharanya apa yang menjadi tuntunan fitrah dan kondisi manusia berupa pembagian yang adil diantara hamba-hamba-Nya yaitu kaum wanita memegang urusan rumah tangga sedangkan laki-laki menangani pekerjaan di luar rumah.
- Terpeliharanya tujuan syari’at bahwa masyarakat islami adalah masyarakat yang tidak bercampur baur. Kaum wanita memiliki komunitas khusus yaitu di dalam rumah sedang kaum laki-laki memiliki komunitas tersendiri, yaitu di luar rumah.
- Memfokuskan kaum wanita untuk melaksanakan kewajibannya dalam rumah tangga dan mendidik generasi mendatang.
Islam adalah agama fitrah, dimana kemaslahatan umum seiring dengan fitrah manusia dan kebahagiaannya. Jadi, Islam tidak memperbolehkan bagi kaum wanita untuk bekerja kecuali sesuai dengan fitrah, tabiat, dan sifat kewanitaannya. Sebab, seorang perempuan adalah seorang istri yang mengemban tugas mengandung, melahirkan, menyusui, mengurus rumah, merawat anak, mendidik generasi umat di madrasah mereka yang pertama, yaitu: ‘Rumah’.
Bahaya Tabarruj Model Jahiliyah
Bersolek merupakan fitrah bagi wanita pada umumnya. Jika bersolek di depan suami, orang tua atau teman-teman sesama wanita maka hal ini tidak mengapa. Namun, wanita sekarang umumnya bersolek dan menampakkan sebagian anggota tubuh serta perhiasan di tempat-tempat umum. Padahal di tempat-tempat umum banyak terdapat laki-laki non mahram yang akan memperhatikan mereka dan keindahan yang ditampakkannya. Seperti itulah yang disebut dengan tabarruj model jahiliyah.
Di zaman sekarang, tabarruj model ini merupakan hal yang sudah dianggap biasa, padahal Allah dan Rasul-Nya mengharamkan yang demikian.
Allah berfirman:
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
“Dan hendaklah kamu tetap berada di rumahmu, dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti model berhias dan bertingkah lakunya orang-orang jahiliyah dahulu (tabarruj model jahiliyah).” (Qs. Al-Ahzab: 33)
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Ada dua golongan ahli neraka yang tidak pernah aku lihat sebelumnya; sekelompok orang yang memegang cambuk seperti ekor sapi yang dipakai untuk mencambuk manusia, dan wanita-wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang, mereka berjalan melenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak bisa mencium aromanya. Sesungguhnya aroma jannah tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)
Bentuk-bentuk tabarruj model jahiliyah diantaranya:
- Menampakkan sebagian anggota tubuhnya di hadapan laki-laki non mahram.
- Menampakkan perhiasannya,baik semua atau sebagian.
- Berjalan dengan dibuat-buat.
- Mendayu-dayu dalam berbicara terhadap laki-laki non mahram.
- Menghentak-hentakkan kaki agar diketahui perhiasan yang tersembunyi.
Pernikahan, Mahkota Kaum Wanita
Menikah merupakan sunnah para Nabi dan Rasul serta jalan hidup orang-orang mukmin. Menikah merupakan perintah Allah kepada hamba-hamba-Nya:
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Qs. An-Nuur: 32)
Pernikahan merupakan sarana untuk menjaga kesucian dan kehormatan baik laki-laki maupun perempuan. Selain itu, menikah dapat menentramkan hati dan mencegah diri dari dosa (zina). Hendaknya menikah diniatkan karena mengikuti sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menjaga agama serta kehormatannya.
Tidak sepantasnya bagi wanita mukminah bercita-cita untuk hidup membujang. Membujang dapat menyebabkan hati senantiasa gelisah, terjerumus dalam banyak dosa, dan menyebabkan terjatuh dalam kehinaan.
Kemaslahatan-kemaslahatan pernikahan:
- Menjaga keturunan dan kelangsungan hidup manusia.
- Menjaga kehormatan dan kesucian diri.
- Memberikan ketentraman bagi dua insan. Ada yang dilindungi dan melindungi. Serta memunculkan kasih sayang bagi keduanya.
Demikianlah beberapa perkara yang harus diperhatikan oleh setiap muslimah agar dirinya tidak terjerumus ke dalam dosa dan kemaksiatan dan tidak menjerumuskan orang lain ke dalam dosa dan kemaksiatan. Allahu A’lam.




Wahai Saudara Saudariku
http://youtu.be/2I-vUM7ByP8
I
ni adalah postingan pertamaku saat bergabung bersama CyberMQ Blog.Kedepan InsyaAllah saya akan coba terus menulis di blog tercinta saya ini tentang sesuatu yang bermanfaat bagi dunia. Semoga tulisan awal ini menjadi langkah penting dalam memulai kreasi saya didunia maya khususnya di blog saya ini. Kunjungi kembali blog saya beberapa waktu kedepan untuk melihat tulisan saya.
http://www.youtube.com/watch?v=rFQo5M9lVZ4
